DI YOGYAKARTA — Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengungkapkan urgensi peremajaan ini di Jakarta, Senin (8/6/2026). Menurutnya, kebutuhan pengadaan kereta baru tidak hanya untuk menggantikan armada tua, tetapi juga mengantisipasi lonjakan jumlah penumpang yang terus meningkat.
"Kami sedikit memberikan gambaran bagaimana urgency kebutuhannya untuk mengantisipasi peningkatan jumlah penumpang, dan bertambahnya sarana KRL yang memasuki masa konservasi," kata Bobby dalam keterangan resmi.
Penumpang Tembus 357 Juta, Proyeksi 2030 Capai 437 Juta
Proyeksi KAI menunjukkan jumlah pengguna KRL Jabodetabek tumbuh sekitar 4 persen per tahun dan diperkirakan mencapai 437 juta orang pada 2030. Realisasi 2025 bahkan sudah melampaui target: 357 juta penumpang, lebih tinggi dari proyeksi awal 339 juta.
Di sisi lain, armada yang lebih muda masih terbatas. Saat ini baru ada 11 trainset atau 132 unit KRL impor dari CRRC China yang berusia kurang dari setahun, serta 7 trainset atau 84 unit buatan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA yang sudah mulai beroperasi.
Rincian Proyek Rp 9,18 Triliun: PMN, Pinjaman Bank, dan Kas Internal
Proyek pengadaan sarana KRL Jabodetabek ini dikerjakan KAI bersama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Pendanaannya berasal dari PMN sebesar Rp 5,3 triliun—sekitar 58 persen dari total proyek—ditambah pinjaman bank Rp 3,69 triliun dan kas internal KCI Rp 190 miliar.
Komponen PMN terdiri dari tiga tahap: Rp 2 triliun pada 2024 (sudah terserap seluruhnya), Rp 1,8 triliun pada 2025, dan Rp 1,5 triliun pada 2026 yang masih bersifat proyeksi. PMN 2025 sebesar Rp 1,8 triliun telah diterima KAI pada 31 Desember 2025 dan diteruskan ke KCI pada 20 Mei 2026. Dari jumlah itu, Rp 744,46 miliar sudah dibayarkan ke INKA, sisanya Rp 1,05 triliun akan dicairkan bertahap.
Produksi INKA dan Impor CRRC: 16 Trainset Baru hingga Retrofit
Proyek ini mencakup pengadaan 16 trainset atau 192 unit KRL baru dari INKA senilai Rp 3,85 triliun, serta 3 trainset atau 36 unit KRL impor dari CRRC Qingdao Sifang Co Ltd senilai Rp 830 miliar. Selain itu, ada 8 trainset atau 96 unit KRL impor senilai Rp 2,2 triliun untuk menggantikan program retrofit, dan 2 trainset atau 24 unit KRL retrofit dari INKA senilai Rp 250 miliar. Rencana pengadaan 8 trainset baru dari INKA senilai Rp 2,05 triliun masih belum dikontrak.
Bobby menambahkan, penyerapan sisa dana PMN akan mengikuti progres penyelesaian sembilan trainset yang saat ini diproduksi INKA. "Proyeksinya akan kita spending sesuai dengan progres dari penyelesaian sembilan trainset yang sudah ada di PT INKA sesuai dengan recovery schedule-nya, yaitu diharapkan penyelesaiannya itu di bulan September tahun 2026," ujar dia.
Dengan percepatan ini, KAI menargetkan armada KRL yang lebih andal dan nyaman bisa segera dirasakan pengguna setia Commuter Line, yang jumlahnya terus bertambah setiap tahun.