Pencarian

Beban Neymar di Pundak Brasil: Antara Harapan Messi dan Tragedi 1-7 Jerman

Minggu, 24 Mei 2026 • 03:52:01 WIB
Beban Neymar di Pundak Brasil: Antara Harapan Messi dan Tragedi 1-7 Jerman
Neymar memikul harapan besar Brasil sejak debutnya pada 2010.

DI YOGYAKARTA — Fenomena ini bukanlah hal baru. Sejak debut Neymar pada 2010 sebagai bagian dari regenerasi tim setelah kegagalan Piala Dunia Afrika Selatan, Brasil seolah panik mencari "Messi"-nya sendiri. Saat itu Messi berusia 23 tahun dan sudah menjadi bintang; Neymar yang baru 18 tahun harus mengisi ekspektasi yang sama.

Tekanan yang Menghancurkan Karier

Beban harapan itu justru menjadi bumerang. Jonathan Wilson dalam analisisnya menulis bahwa Neymar adalah "pemain potensial hebat yang tak pernah diizinkan menjadi dirinya sendiri." Substansi permainannya tak pernah benar-benar sepadan dengan citra yang dibangun media dan federasi.

Gambaran paling pilu terjadi usai kekalahan Brasil dari Belgia di perempat final Piala Dunia 2018. Neymar, saat itu baru 26 tahun, berdiri sendiri di parkir stadion Kazan, membungkuk di bawah sorot lampu LED raksasa. Bahu yang tertunduk itu seolah mengakui: peluang terbaiknya untuk menang sudah lewat.

Kelemahan Taktis yang Dieksploitasi Rival

Kekalahan dari Belgia bukan soal individu. Roberto Martínez memindahkan Romelu Lukaku ke sisi kanan untuk mengeksploitasi sisi kiri Brasil yang rapuh. Akomodasi terhadap Neymar memaksa perubahan kompensasi di lini tengah, tapi Brasil tidak memiliki Rodrigo De Paul—seperti yang dimiliki Argentina untuk Messi. Hasilnya: ketidakseimbangan dan kekalahan.

Dari Rosales ke Zúñiga: Siklus Kekerasan

Masalah sudah dimulai sejak Copa América 2011. Setelah membawa Santos juara Copa Libertadores, Neymar tiba di Argentina dengan hype besar. Semua berakhir saat ia bertemu Roberto Rosales, bek Venezuela yang keras. Dua duel melawan Darío Verón dari Paraguay kemudian menegaskan: Neymar tidak suka saat lawan "satu level di atasnya."

Defender mulai menendang, Neymar mulai antisipasi kontak, membesar-besarkan, dan diving. Ini menjadi "perlombaan senjata" paling menyebalkan di sepak bola 2010-an. Puncaknya di perempat final Piala Dunia 2014: Brasil menang atas Kolombia, tapi Neymar mengalami patah tulang belakang setelah lutut Juan Camilo Zúñiga mengenai punggungnya.

Tanpa Messi, Histeria dan 1-7 Jerman

Keesokan paginya di Rio de Janeiro, suasana hening seperti setelah bencana nasional. David Luiz mengibarkan jersey kosong Neymar saat lagu kebangsaan. Histeria massal menguasai tim. Jerman mencetak tujuh gol. Wilson menulis: "Tanpa mesias, apa yang akan terjadi pada umat pilihan-Nya?" Jawabannya: kekalahan paling memalukan dalam sejarah Brasil.

  • Fakta Singkat:
  • Neymar debut timnas senior Brasil: 2010, usia 18 tahun.
  • Patah tulang belakang: perempat final Piala Dunia 2014 vs Kolombia.
  • Kekalahan 1-7 dari Jerman terjadi di semifinal tanpa Neymar.
  • Usia Messi saat "last dance" 2022: 35 tahun. Neymar sekarang: 34 tahun.
  • Kartu merah Neymar: Copa América 2015 vs Kolombia (sundulan ke belakang).

Pada 2015, Kolombia kembali memprovokasi Neymar hingga ia diusir keluar lapangan karena sundulan ke belakang. Hukuman empat pertandingan pun dijatuhkan. Namun, seperti kata Wilson, "Neymar adalah wadah tempat faksi-faksi yang bersaing menuangkan narasi mereka." Sosok individu nyaris hilang di tengah proyeksi kolektif yang tak realistis.

Kini, di usia 34 tahun, panggilan Ancelotti terasa seperti isyarat putus asa. Brasil masih mencari Messi-nya. Dan Neymar, seperti biasa, harus menanggung beban yang bukan miliknya.

Bagikan
Sumber: theguardian.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks