Pencarian

Dominasi Afrika di Piala Dunia 2026 Buka Mata Asia: Investasi Akar Rumput Jadi Kunci

Selasa, 30 Juni 2026 • 03:47:01 WIB
Dominasi Afrika di Piala Dunia 2026 Buka Mata Asia: Investasi Akar Rumput Jadi Kunci
Investasi sepak bola akar rumput dorong kebangkitan tim Afrika di Piala Dunia 2026.

DI YOGYAKARTA — Transformasi sepak bola Afrika dalam dua edisi Piala Dunia terakhir terbilang dramatis. Di Rusia 2018, tak satu pun dari lima wakil Afrika lolos dari fase grup—hanya tiga kemenangan dari 15 pertandingan. Delapan tahun berselang, ceritanya berbalik 180 derajat.

Dari sepuluh tim Afrika di Piala Dunia 2026, hanya Tunisia yang gagal melaju. Cape Verde, Mesir, Pantai Gading, Maroko, dan Afrika Selatan lolos sebagai runner-up grup; Aljazair, DR Kongo, Ghana, dan Senegal menyusul dari peringkat ketiga. Sebaliknya, Asia hanya menyumbang dua dari sembilan wakilnya ke babak 32 besar.

Investasi Maroko Jadi Cetak Biru Kesuksesan Afrika

Kegagalan total Afrika di Rusia 2018 sempat melemahkan argumen penambahan jatah empat kursi tambahan untuk benua hitam. Kini kekhawatiran itu sirna. Presiden CAF Patrice Motsepe menyebut kerja keras dan investasi di pembinaan pemain muda, kepelatihan, serta liga profesional sebagai pilar kebangkitan.

"Maroko menciptakan cetak biru bagaimana cara melakukannya, yaitu bertahun-tahun berinvestasi di sepak bola akar rumput dan akademi," kata mantan kapten Nigeria William Troost-Ekong kepada BBC Sport Africa. "Mereka tidak hanya mengeluarkan uang, tapi juga waktu dan usaha dengan visi yang jelas soal progres. Fasilitas dan konsistensi di semua kelompok umur adalah satu-satunya cetak biru yang bisa diikuti."

Format Baru Bukan Satu-satunya Jawaban

Format baru 48 tim memang membantu—hanya empat grup yang memiliki dua tim unggulan tradisional, sementara 16 tim unggulan disebar ke 12 grup. Tapi itu tak menjelaskan mengapa Afrika bisa memanfaatkan peluang sementara Asia justru tenggelam.

Dari 27 pertandingan, sembilan wakil Asia hanya meraih tiga kemenangan—rata-rata 0,67 poin per laga. Afrika mencatat sepuluh kemenangan dari 30 pertandingan dengan 1,33 poin per laga. Di putaran akhir fase grup, ada lima laga Afrika kontra Asia yang menentukan kelolosan. Asia tak memenangkan satu pun, kalah empat kali.

Maroko Berpeluang Ulang Sejarah, Argentina Hadapi 'Jalur Afrika'

Maroko kini duduk di peringkat enam FIFA, satu tingkat di atas Belanda yang akan mereka hadapi di babak 32 besar. Jika menang, skuad asuhan Walid Regragui berpotensi bertemu Prancis di perempat final—replay semifinal 2022 yang epik.

Sementara itu, juara bertahan Argentina yang menghadapi Cape Verde pada Jumat, memiliki empat tim Afrika di bagian bracket yang sama. Aljazair kontra Swiss dan Ghana vs Kolombia membuka peluang laga sesama Afrika di babak 16 besar—sebuah skenario yang tak terbayangkan satu dekade lalu.

Afrika Selatan sudah tersingkir setelah kebobolan gol telat Kanada pada Minggu. Tapi secara keseluruhan, Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa investasi sistematis mampu mengubah peta kekuatan. Asia kini punya pekerjaan rumah besar: meniru cetak biru yang sudah terbukti itu.

Bagikan
Sumber: bbc.co.uk

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks