YOGYAKARTA — Puluhan drum bekas yang ditata di area pedestrian sekitar Benteng Vredeburg bukan sekadar pajangan. Anak-anak dan remaja di Kota Yogyakarta kini bisa memukulnya bebas, menciptakan ritme, dan berinteraksi tanpa harus menatap layar ponsel.
Mengapa Drum di Jalan Bisa Jadi Solusi Kecanduan Gawai?
Ketua KPAID Kota Jogja Sylvi Dewajani mengatakan, kehadiran instalasi drum di ruang publik ini menjadi alternatif kegiatan positif yang mudah diakses. "Anak-anak punya hak untuk berekspresi melalui seni dan budaya. Kegiatan seperti ini bisa menjadi sarana mengalihkan perhatian mereka dari gadget," ujarnya.
Menurut Sylvi, aktivitas bermain drum secara bersama-sama juga melatih kerja sama dan motorik anak. Ia menambahkan, ruang kreatif seperti ini sejalan dengan konsep kota layak anak yang terus didorong oleh Pemkot Yogyakarta.
Benteng Vredeburg Jadi Panggung Kreativitas Tanpa Biaya
Instalasi drum di Benteng Vredeburg tidak dipungut biaya. Siapa pun bisa memainkannya, asal tidak merusak. Lokasinya yang strategis di kawasan Malioboro membuat tempat ini ramai dikunjungi anak-anak sepulang sekolah maupun akhir pekan.
Seorang pengunjung, Rina (34), mengaku membawa kedua anaknya ke lokasi setiap Sabtu. "Mereka lebih suka main drum di sini daripada main HP di rumah. Setidaknya ada kegiatan fisik dan ketemu teman-teman baru," katanya.
Apa Langkah KPAID Selanjutnya?
Sylvi berharap instalasi serupa bisa diperbanyak di titik-titik lain di Yogyakarta, seperti Taman Pintar atau Alun-Alun Kidul. KPAID juga mendorong komunitas seni untuk terlibat dalam pendampingan anak-anak yang bermain di ruang publik.
"Kami ingin kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan sesaat, tapi juga wadah pembentukan karakter anak melalui seni," pungkas Sylvi.