DI YOGYAKARTA — Pertamina Patra Niaga mencatat perubahan signifikan dalam komposisi konsumsi BBM sejak harga Pertamax naik dari Rp 12.000-an menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni lalu. Di beberapa daerah, harga BBM RON 92 itu bahkan tembus Rp 17.000 per liter. Akibatnya, pengguna kendaraan pribadi mulai beralih ke Pertalite yang dibanderol lebih murah.
Lonjakan 9,4 Persen di Juli: Pengguna Pertamax Pindah ke Pertalite
"Saat ini terjadi peningkatan konsumsi Pertalite hampir 9,4 persen hanya di bulan Juli saja," ungkap Director of Regional Marketing PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII. Sebelum kenaikan, komposisi konsumsi Pertamax mencapai 23,2 persen, sementara Pertalite 75,4 persen. Setelah harga naik, komposisi Pertamax merosot ke 18,8 persen, Pertamax Green 0,2 persen, dan Pertamax Turbo 0,7 persen. Sementara itu, porsi Pertalite melonjak ke 80,3 persen.
Bukan Cuma Pertalite: Biosolar Juga Ikut Terdampak
Perpindahan konsumsi tidak hanya terjadi pada bensin. Komposisi konsumsi Biosolar naik menjadi 94,2 persen dari sebelumnya 93 persen. Sebaliknya, konsumsi Dexlite dan Pertamina Dex turun 6,4 persen dibandingkan rata-rata harian normal. Eko menjelaskan, kenaikan ini dipicu oleh beralihnya kendaraan industri ke BBM subsidi.
"Kalau secara komposisi perubahannya pada saat periode Januari-Mei, kondisi untuk produk Pertalite JKBP secara komposisi sekitar 75 persen, saat ini sudah bergeser ke 80 persen. Jadi hampir 5 persen komposisi BBM gasoil sudah bergeser kepada BBM PSO," lanjut Eko.
Dampak ke Kantong dan Stok: Apa yang Perlu Diwaspadai?
Meski konsumsi Pertalite dan Biosolar naik, Pertamina mengklaim stok masih terkendali. Namun, pergeseran ini menimbulkan pertanyaan soal beban subsidi. Dengan porsi pengguna BBM subsidi yang membengkak, potensi tekanan pada kuota yang ditetapkan pemerintah patut dicermati. Bagi pengguna kendaraan pribadi yang sebelumnya memakai Pertamax, selisih harga Rp 4.000-an per liter jelas terasa di kantong, terutama untuk pemakaian harian di perkotaan yang padat.
Catatan untuk Pemilik Kendaraan: Efisiensi atau Adaptasi?
Beralih ke Pertalite memang solusi jangka pendek yang logis. Tapi, perlu diingat bahwa RON 90 tidak cocok untuk semua mesin, khususnya kendaraan modern dengan kompresi tinggi yang dirancang untuk RON 92 ke atas. Penggunaan jangka panjang pada mesin yang tidak sesuai berpotensi menimbulkan knocking atau penurunan performa. Jadi, sebelum ikut-ikutan migrasi, pastikan spesifikasi kendaraanmu kompatibel—atau siap-siap merogoh kocek lebih untuk perawatan mesin di kemudian hari.