DI YOGYAKARTA — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menilai kandungan logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements pada produk olahan nikel sangat kecil, rata-rata hanya 0,01% hingga 0,00001%. Kadar serendah itu membuat pemisahan mineral tersebut belum layak secara ekonomi. APNI pun mendorong penelitian diarahkan ke material yang berpotensi punya konsentrasi lebih tinggi.
Paragraf pembuka: Sekretaris Jenderal APNI Meidy Katrin Lengkey menyatakan keberadaan LTJ pada komoditas nikel lebih berpotensi ditemukan pada material limonit. Pada produk olahan seperti mixed hydroxide precipitate (MHP), nickel pig iron (NPI), ferronickel, maupun nickel matte, kandungannya disebut nyaris tidak ada.
"REE di nikel itu sebenarnya ada di limonit. Kemudian kalau di produk olahan MHP, NPI, ferronickel, nickel matte, itu tidak ada atau paling rata-rata 0,01% sampai 0,00001%," ujar Meidy.
Kadar Terlalu Rendah untuk Diolah
Meidy menegaskan, jika LTJ hanya ditemukan dalam kadar sangat rendah pada produk akhir nikel, pemisahan mineral tersebut belum tentu layak secara ekonomi. Ia mencontohkan produk jadi seperti NPI, ferronickel, atau MHP yang kandungan LTJ-nya disebut hanya sekitar 0,00001%.
"Kalau dari produk-produk jadi, seperti NPI, ferronickel, atau MHP, mungkin 0,00001%. Untuk apa? Tidak ekonomis," ujarnya.
Karena itu, APNI menilai penelitian perlu diarahkan pada material yang berpotensi memiliki konsentrasi LTJ lebih tinggi, termasuk tailing dan limonit. Teknologi untuk menangkap atau memisahkan LTJ dari material tersebut perlu dikaji lebih mendalam.
"Ini tinggal dilihat bagaimana mengolahnya atau mendeteksi dan menangkapnya di tailing dan di limonit," jelas Meidy.
Teknologi Ekstraksi Jadi Kendala Utama
Tantangan terbesar bukan sekadar menemukan kandungan LTJ, melainkan memastikan teknologi ekstraksinya bisa diterapkan secara ekonomis. Meidy menyebut pihaknya telah mendengar adanya teknologi pengolahan LTJ yang dikembangkan di Amerika Serikat, tetapi belum tentu cocok dengan kondisi Indonesia.
"Kalau di-detailing, ada beberapa mineral rare earth yang berpotensi. Tapi kembali lagi, teknologinya bagaimana dan ekonomis atau tidak? Kita belum punya teknologinya," kata Meidy.
Ia mengingatkan agar biaya operasional atau opex tidak membengkak sementara harga jual tidak mumpuni. Menurutnya, teknologi yang diadopsi harus benar-benar sesuai dengan keekonomian tambang nikel dalam negeri.
"Jangan sampai opex-nya tinggi, tetapi harga jualnya tidak mumpuni. Jadi kita perlu lihat apakah teknologi tersebut ekonomis dengan kondisi kita," ujarnya.
Aturan LTJ Masih Digodok
Di sisi regulasi, Meidy menyatakan pengaturan mengenai LTJ di Indonesia masih dalam tahap pembahasan. Hingga kini belum ada aturan yang secara jelas mengatur tata kelola LTJ dalam kegiatan pertambangan dan pengolahan mineral.
"REE sekarang masih dalam godokan. Kita belum tahu nanti bagaimana aturannya," katanya.
Ia juga menyinggung pembahasan mineral ikutan yang sebelumnya menjadi perhatian dalam koordinasi pemerintah. Persoalan itu tidak hanya berkaitan dengan nikel, tetapi juga mineral lain.
"Yang kemarin itu kan karena mineral lain, kita ikutkan. Yang salahnya, belum ada aturan yang jelas mengenai REE ini," ujarnya.
Soal kemungkinan kebijakan baru mengenai LTJ, Meidy mengaku belum memperoleh informasi yang cukup. APNI juga belum banyak dilibatkan dalam pembahasan karena kandungan LTJ pada komoditas nikel dinilai relatif kecil.
"Kalau nikel tidak terlalu, karena itu tadi saya bilang, kita tidak terlalu dilibatkan. Soalnya di nikel kurang," katanya.
Ia menilai potensi LTJ pada komoditas lain seperti timah dan tembaga justru patut diteliti lebih lanjut. "Kalau mungkin di timah, di copper, di mana-mana itu mungkin. Coba dicek di timah atau yang lain," pungkas Meidy.
Penutup: Bagi industri nikel nasional, temuan APNI ini menegaskan bahwa nilai tambah dari rantai pengolahan nikel tetap bertumpu pada produk utama seperti MHP dan ferronickel, bukan pada mineral ikutan. Pembahasan regulasi LTJ yang belum tuntas juga membuat pelaku usaha menahan diri, setidaknya sampai kejelasan aturan dan keekonomian teknologi muncul.