DI YOGYAKARTA — Proyek pengeboran Uni Soviet di Semenanjung Kola menembus Bumi hingga kedalaman 12.262 meter sebelum dihentikan pada 1992. Lubang bernama Kola Superdeep Borehole (SG-3) itu masih tercatat sebagai penembusan terdalam manusia ke kerak Bumi. Data yang dihasilkan proyek ini kini relevan bagi pengembangan energi panas Bumi generasi baru.
Pengeboran SG-3 dimulai 24 Mei 1970 di Semenanjung Kola, wilayah yang saat itu berada di bawah kendali Uni Soviet. Proyek ini menjadi salah satu dari sejumlah pekerjaan besar yang dicanangkan untuk memperingati ulang tahun ke-100 Vladimir Lenin.
Ketika kendala fisik, finansial, dan teknologi memaksa proyek dihentikan pada 1992, lubang bor tersebut telah mencapai kedalaman 12.262 meter. Angka itu memecahkan rekor penembusan terdalam yang pernah dicapai manusia ke dalam planet ini.
Apa yang Ditemukan di Kedalaman 12 Kilometer
Meski masih berjarak lebih dari 5.900 kilometer dari inti Bumi, bor SG-3 menembus lapisan yang jarang teramati langsung. Menurut laporan Orion Magazine, mata bor melewati endapan logam seperti tembaga, nikel, dan magnetit.
Batuan yang diangkat ke permukaan menyerupai sampel dari Bulan. Di lapisan lebih dalam, bor menabrak batuan berusia 2,5 miliar tahun yang dipenuhi fosil plankton mikroskopis.
Pada kedalaman maksimal, suhu di dasar lubang mencapai 212 derajat Celsius. Panas itu menciptakan aliran batuan plastis yang berulang kali menutup lubang bor dan menyulitkan proses pengeboran lanjutan.
Warisan Ilmiah SG-3
Sebuah ulasan ilmiah tentang pengeboran sangat dalam yang diterbitkan di jurnal Communications Earth & Environment mencatat kontribusi proyek ini bagi ilmu kebumian.
"Sumur SG-3 secara mendasar membentuk ulang pemahaman tentang struktur kerak benua dan proses geologi dalam. Meskipun tidak menembus Moho (batas antara kerak dan mantel Bumi), SG-3 menghasilkan kumpulan data langsung yang paling komprehensif mengenai kerak benua kristalin," sebut peneliti dalam ulasan tersebut.
Lubang bor ini tidak menembus Moho, batas antara kerak dan mantel Bumi. Meski begitu, data yang dikumpulkan dari SG-3 tetap menjadi rujukan penting untuk memahami struktur kerak benua.
Kaitan dengan Energi Panas Bumi Masa Depan
Data dari lubang sedalam SG-3 relevan bagi upaya memahami panas atau energi yang terperangkap di bawah permukaan Bumi. Sistem generasi berikutnya yang disebut enhanced geothermal systems (EGS) menggali lebih dalam dibandingkan sumur konvensional.
EGS menyuntikkan air bertekanan tinggi ke dalam batuan panas. Air tersebut menyerap panas Bumi dan membawanya kembali ke permukaan dalam bentuk energi hijau yang dapat digunakan.
Pendekatan ini berbeda dari pembangkit panas Bumi konvensional yang bergantung pada reservoir uap alami. Dengan mengebor lebih dalam, EGS berpotensi membuka akses ke sumber panas Bumi di wilayah yang sebelumnya dianggap tidak layak secara teknis.
Kondisi Terkini Lokasi Pengeboran
Kola Superdeep Borehole kini terbengkalai. Lokasinya masuk dalam kawasan yang dianggap sebagai salah satu area paling tercemar di Bumi akibat kontaminasi industri selama puluhan tahun.
Lanskap di sekitar Semenanjung Kola yang dahulu subur kini rusak. Meski demikian, pelajaran dari SG-3 diharapkan dapat membantu ilmuwan mengembangkan sumber energi yang lebih bersih untuk masa depan.
Proyek ini juga sempat menjadi bahan hoax yang menyebut suara roh terkutuk di neraka dapat direkam dari dalam lubang. Klaim tersebut tidak pernah terbukti secara ilmiah dan hanya menjadi bagian dari mitos yang menyelimuti SG-3.