YOGYAKARTA — Praktik mindfulness dan meditasi kini mudah dijumpai di Yogyakarta, mulai dari kelas komunitas, aplikasi ponsel, hingga video di media sosial. Banyak orang memakainya untuk meredakan stres harian. Meski begitu, manfaat dan risikonya perlu dipahami secara utuh sebelum rutin dilakukan.
American Psychological Association menjelaskan mindfulness sebagai kesadaran terhadap kondisi internal diri dan lingkungan sekitar. Lewat praktik ini, seseorang belajar mengamati pikiran dan emosi tanpa menghakimi atau langsung bereaksi. Teknik tersebut kerap dipakai dalam terapi berbasis kesadaran, termasuk meditasi.
Manfaat Mindfulness yang Didukung Penelitian
National Institutes of Health (NIH) menyebut meditasi umumnya berisiko kecil dan dapat memberi efek relaksasi. Praktik mindfulness juga disebut mampu mengurangi gejala stres, termasuk kecemasan dan depresi.
Selain itu, mindfulness berpotensi mendukung kualitas tidur, terutama pada orang yang tidak memiliki kondisi mental tertentu. Kemudahan akses lewat aplikasi dan media sosial membuat praktik ini makin terjangkau bagi banyak kalangan.
Penelitian 10 Tahun Temukan Efek Negatif Meditasi
Willoughby Britton, profesor psikiatri Universitas Brown sekaligus direktur Laboratorium Neurosains Klinis dan Afektif, menemukan efek kurang menyenangkan dari meditasi. Temuan itu berasal dari penelitian selama 10 tahun terhadap lebih dari 100 praktisi meditasi.
Pengalaman negatif tersebut dapat berupa hyperarousal, seperti kecemasan, depresi, gangguan tidur, dan luapan emosi berlebih. Sebaliknya, hypoarousal ditandai dengan berkurangnya emosi, motivasi, dan kesadaran terhadap diri sendiri.
ReachLink mencatat, aktivitas merenung secara berlebihan berpotensi membuat seseorang semakin terjebak dalam lingkaran kecemasan. Kondisi ini terutama dialami orang yang memiliki riwayat kecemasan.
Kelompok yang Perlu Berhati-hati
NIH mencatat sejumlah laporan mengenai teknik relaksasi tertentu yang justru memperburuk gejala pada orang dengan kondisi psikologis tertentu. Kelompok ini termasuk mereka yang memiliki riwayat trauma.
Karena itu, konsultasi dengan tenaga profesional dapat dipertimbangkan ketika praktik meditasi menimbulkan atau memperburuk keluhan. Respons setiap orang terhadap mindfulness memang berbeda.
Jika meditasi justru memperburuk kecemasan atau membuat pikiran semakin terganggu, kondisi tersebut tidak perlu dipandang sebagai kegagalan. Mindfulness bukan berarti memaksa pikiran menjadi kosong atau harus selalu merasa tenang.
Praktik ini lebih berkaitan dengan kemampuan menyadari apa yang sedang terjadi tanpa langsung memberikan reaksi. Dengan pemahaman yang tepat, mindfulness dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung kesehatan, bukan solusi untuk seluruh persoalan.