DI YOGYAKARTA — Paragraf pembuka: Proyek yang dibangun di area seluas 17,5 hektare di kompleks Kilang RU IV Cilacap, Jawa Tengah, itu kini memasuki tahap Final Investment Decision (FID) dan penjajakan mitra strategis. Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro menyatakan proses penentuan partner masih berjalan.
Dari Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat
Biorefinery Cilacap dirancang memproduksi sekitar 860 kiloliter Sustainable Aviation Fuel (SAF) per hari atau 870 kiloliter Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) per hari. Bahan bakunya berasal dari feedstock nabati dan limbah, termasuk minyak jelantah alias used cooking oil (UCO), crude palm oil (CPO), dan palm oil mill effluent (POME).
Kebutuhan bahan baku proyek ini diperkirakan mencapai 311.000 ton per tahun. Pemanfaatan limbah tersebut menjadi inti dari strategi transisi energi Pertamina — mengubah material yang sebelumnya tidak terpakai menjadi produk bernilai tambah.
Lonjakan Kapasitas Biofuel
Saat ini kapasitas produksi biofuel Pertamina hanya sekitar 27 kiloliter per hari. Lewat pengembangan biorefinery, kapasitas itu ditargetkan melonjak menjadi sekitar 860 kiloliter per hari — lebih dari 30 kali lipat.
Hermawan menjelaskan tahapan proyek sudah dimulai sejak 2025 melalui Front End Engineering Design (FEED). Tahap Engineering, Procurement and Construction (EPC) ditargetkan mulai 2027, sebelum fasilitas beroperasi pada 2029.
"Di tahun 2026 ini sedang melakukan FID dan proses partnership untuk menentukan partner mana yang tepat untuk bekerja sama membangun kilang biorefinery," kata Hermawan di kawasan Kilang RU IV Cilacap, Kamis (10/9).
Pasokan SAF untuk Dua Bandara Internasional
Produk SAF dari Biorefinery Cilacap direncanakan memasok kebutuhan penerbangan di dua bandara internasional: Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang dan Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali. Distribusi dari fasilitas penyimpanan akan melewati area jetty sebelum dikirim ke kedua bandara tersebut.
Saat ini RU Cilacap sudah memasok avtur untuk penerbangan domestik di sejumlah bandara di Pulau Jawa dan Bali. Untuk produk blended SAF, jalur distribusinya akan memanfaatkan infrastruktur yang sama.
Groundbreaking Fase Kedua
Pertamina sebelumnya melakukan groundbreaking proyek Biorefinery Cilacap fase kedua pada Februari 2026. Proyek ini dikembangkan sebagai dedicated green refinery yang fokus memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar. Fasilitas biorefinery tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada September 2029.
"Manfaatnya adalah untuk transisi energi melalui pemanfaatan UCO atau waste feedstock, jadi bahan yang sudah mungkin tidak dipakai lagi, kemudian kita produksi menjadi bahan yang bermanfaat dan bernilai tinggi," ujar Hermawan.
Penutup: Jika terealisasi sesuai jadwal, Biorefinery Cilacap akan menjadi salah satu fasilitas SAF terbesar di Asia Tenggara dan memperkuat posisi Pertamina di rantai pasok bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Proyek ini juga menjadi ujian bagi kemampuan Pertamina menarik mitra global di tengah persaingan investasi energi hijau yang semakin ketat.