Pencarian

Tradisi Siraman Pusaka di Bantul Libatkan Pusaka Desa Budaya, Bupati Ajak Warga Introspeksi Diri

Rabu, 15 Juli 2026 • 19:09:31 WIB
Tradisi Siraman Pusaka di Bantul Libatkan Pusaka Desa Budaya, Bupati Ajak Warga Introspeksi Diri
Prosesi Siraman Pusaka Tombak Kyai Agnya Murni digelar di Bangsal Rumah Dinas Bupati Bantul dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-195.

BANTUL — Pemerintah Kabupaten Bantul menggelar prosesi Siraman Pusaka Tombak Kyai Agnya Murni di Bangsal Rumah Dinas Bupati Bantul, Rabu (15/7/2026). Tradisi tahunan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-195 ini mengusung pesan introspeksi dan penguatan gotong royong.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan ritual membersihkan pusaka mengandung filosofi yang relevan dengan kehidupan saat ini. Ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan momen tersebut sebagai ajang evaluasi diri.

"Semoga Siraman Pusaka Kyai Agnya Murni ini dapat menjauhkan seluruh masyarakat Bantul dari berbagai persoalan dan menjadi momentum untuk membersihkan diri, baik pikiran maupun hati," ujar Halim dalam sambutannya.

Pusaka Desa Budaya Ikut Disiram

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Yanatun Yunadiana, menjelaskan tahun ini ada perluasan partisipasi dalam prosesi. Selain pusaka utama dan pendamping dari kapanewon, pihaknya mengikutsertakan tombak pusaka milik desa-desa budaya yang lolos verifikasi.

"Setiap tahun kami melakukan verifikasi desa budaya, dan desa yang lolos mendapat apresiasi berupa tombak pusaka. Untuk tahun ini selain pusaka dari kapanewon, kami juga mengikutsertakan pusaka tombak dari desa-desa budaya," kata Yanatun.

Pusaka utama yang disiram adalah Tombak Kyai Agnya Murni yang disimpan di Rumah Dinas Bupati Bantul. Prosesi juga melibatkan lima tombak pusaka pendamping serta dua songkok pusaka pemberian Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Bupati: Gotong Royong Modal Sosial Pembangunan

Di tengah prosesi, Bupati Halim menekankan perjalanan Bantul selama 195 tahun tidak lepas dari kuatnya tradisi gotong royong. Ia menyebut budaya itu telah menjadi modal sosial yang menopang capaian pembangunan daerah.

"Prestasi yang diraih Kabupaten Bantul selama ini merupakan hasil dari kuatnya tradisi gotong royong masyarakat. Pembangunan tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan seluruh warga," ungkapnya.

Menurut Halim, kekompakan warga hingga tingkat padukuhan menjadi fondasi mewujudkan visi Bantul sebagai daerah yang maju, kuat, demokratis, dan sejahtera. Ia berharap budaya rukun dan kebersamaan terus dipelihara agar program pembangunan mendapat dukungan penuh dari masyarakat.

Membersihkan Diri, Bukan Sekadar Pusaka

Yanatun menegaskan tradisi tahunan ini memiliki dua dimensi. Secara fisik, perawatan bertujuan menjaga kondisi pusaka tetap terawat. Namun secara filosofis, prosesi mengajak masyarakat melakukan evaluasi diri.

"Walaupun secara fisik tujuannya agar benda pusaka tetap terawat, arti filosofinya adalah kita membersihkan diri. Yang kedua sebagai wujud melestarikan kebudayaan warisan dari leluhur kita," ujarnya.

Ia menambahkan tradisi Siraman Pusaka menjadi simbol komitmen Pemkab Bantul dalam menjaga kelestarian budaya daerah. Harapannya, pembersihan diri secara kolektif dapat mendorong pembangunan yang lebih tertata dan menghadirkan kesejahteraan bagi warga.

Bagikan
Sumber: jogjapolitan.harianjogja.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks