Warga Padukuhan Kalirandu, Guwosari, Pajangan, Bantul, DI Yogyakarta, kembali memiliki akses penghubung antarwilayah setelah Jembatan Kalirandu rusak. Jembatan apung hasil swadaya warga itu kini difungsikan sebagai alternatif utama untuk mobilitas warga dan kendaraan roda dua.
BANTUL — Rusaknya jembatan utama di Padukuhan Kalirandu, Guwosari, Pajangan, Bantul, sempat memutus akses warga menuju pusat kegiatan ekonomi dan pendidikan. Namun, kegotongroyongan warga melahirkan solusi darurat: sebuah jembatan apung yang dibangun secara swadaya.
Jembatan darurat ini menjadi jalur alternatif yang vital. Warga yang sebelumnya harus memutar jauh kini bisa melintas, meski dengan kecepatan terbatas.
Swadaya Murni, Dana dan Tenaga dari Warga
Pembangunan jembatan apung ini murni digotong royong. Warga mengumpulkan dana secara sukarela dan bekerja sama dalam proses konstruksi, mulai dari perakitan drum hingga pemasangan dek kayu.
Material utama yang digunakan adalah drum-drum bekas yang dirangkai apung, kemudian dilapisi papan kayu sebagai lantai. Konstruksi ini dirancang agar bisa mengikuti naik turunnya permukaan air sungai.
“Kami tidak bisa menunggu terlalu lama. Jembatan ini kebutuhan mendesak untuk anak sekolah dan warga yang bekerja,” ujar salah satu penggagas pembangunan, Selasa (25/8/2026).
Keterbatasan: Hanya untuk Pejalan Kaki dan Motor
Meski berfungsi, jembatan apung ini memiliki keterbatasan kapasitas. Jembatan hanya mampu dilintasi pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Kendaraan roda empat atau truk pengangkut hasil pertanian belum bisa melintas.
Kondisi ini membuat warga berharap pemerintah segera turun tangan. Perbaikan jembatan permanen dinilai jauh lebih penting untuk memulihkan aktivitas ekonomi, terutama distribusi hasil tani dari lahan sekitar.
Harapan Warga: Percepatan Perbaikan Jembatan Utama
Keberadaan jembatan apung dinilai hanya solusi sementara. Warga berharap Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul segera melakukan survei dan perbaikan jembatan utama.
“Kami berharap pemerintah mempercepat perbaikan. Jembatan apung ini rawan jika debit air sungai naik,” tambah warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah desa maupun Pemkab Bantul terkait jadwal perbaikan jembatan utama tersebut.