Pencarian

Sendang Santen di Bantul Muncul Usai Gempa 2006, Tak Pernah Kering meski Kemarau

Minggu, 25 Oktober 2026 • 10:32:02 WIB
Sendang Santen di Bantul Muncul Usai Gempa 2006, Tak Pernah Kering meski Kemarau
Warga memanfaatkan air dari Sendang Santen di Guwosari, Pajangan, Bantul, untuk mandi dan mencuci.

BANTUL — Sumber air yang oleh warga dinamai Sendang Santen itu kini menjadi tempat warga sekitar, terutama anak-anak, bermain dan membasuh muka. Airnya keluar dari bawah pohon yang kemudian dipasangi buis oleh warga agar bisa menampung lebih banyak.

Muncul Tiba-tiba Setelah Gempa 2006

Ketua RT 06 Dukuh, Ngadiran, menuturkan sumber air itu muncul secara tiba-tiba pascagempa 2006. Awalnya air hanya terlihat menggenang di bawah pohon.

"Jadi setelah gempa tahun 2006 itu muncul sumber air, di bawah pohon ada airnya," kata Ngadiran kepada wartawan di Guwosari, Pajangan, Bantul, Sabtu (24/10/2026).

Warga lalu menggali tanah di sekitar titik keluarnya air dan memasang buis. Sejak itu, mata air dipakai untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari sekitar 35 kepala keluarga.

Air Benar-benar Tidak Pernah Kering

Ngadiran menyebut warga menamai sumber itu Sendang Santen karena airnya terus keluar selama musim kemarau. Meski demikian, warga tidak menjadikannya sumber air utama untuk kebutuhan rumah tangga.

"Karena selama kemarau airnya keluar terus dan bisa dimanfaatkan warga. Kenapa kebanyakan hanya dimanfaatkan untuk mandi, karena untuk kebutuhan sehari-hari warga memanfaatkan sumur," ujarnya.

Areal Sumber Air Melebar

Nurhuda (54), saudara pemilik tanah tempat mata air muncul, mengaku areal sumber air kini melebar seiring bertambahnya warga yang memanfaatkannya. Ia sendiri rutin mandi di sana.

"Untuk mandi yang jelas, termasuk saya mandi di sini karena airnya memang bening dan segar untuk mandi. Tapi untuk masak air saya belum pernah pakai air ini," kata Nurhuda.

Warga belum memasang pipa untuk menyalurkan air ke rumah-rumah karena sebagian besar sudah memiliki sumur. Pemanfaatan paling banyak untuk mandi, mencuci, dan mengairi lahan pertanian.

Aliran dari Sendang Santen juga dialirkan ke sawah, dan warga menebar benih biota air di sumber tersebut. Nurhuda mengaku mengontrol mata air hampir setiap hari.

"Saya juga mengontrol sumber air ini hampir, hampir setiap hari karena kan saya kerap mandi di sini. Apalagi sumber air ini tidak pernah kering meski kemarau dan airnya segar," ucapnya.

Follow jogjasatu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks