GUNUNGKIDUL — Senja turun di Padukuhan Ngemplak, Kalurahan Piyaman, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jalan kampung yang sebagian besar belum mulus perlahan diselimuti gelap. Namun, saat pemadaman listrik terjadi di wilayah lain, suasana di sini justru berbeda. Lampu-lampu di sepanjang jalan dan sejumlah rumah tetap menyala terang tanpa kabel menjuntai. Di atas tiang sederhana, hanya tampak panel surya kecil dan sebuah kotak penyimpan daya.
Modal Rp 350.000 untuk Aki Bekas, Bertahun-tahun Tak Tersentuh Tagihan PLN
Bagyo, buruh yang tinggal di Ngemplak, menjadi salah satu pengguna setia energi matahari. Di sudut atas rumah limasannya, dua aki bekas disimpan di atas papan kayu sebagai penyangga. Aki itu terhubung dengan dua panel surya yang dipasang di bagian rumah yang terkena sinar matahari. Dari rangkaian sederhana itu, sekitar 13 lampu di rumah Bagyo menyala setiap malam.
"Ini aman, sudah 10 tahun begitu," kata Bagyo saat ditemui di rumahnya, Senin (22/6/2026) petang.
Bagi Bagyo yang penghasilannya tidak menentu, tenaga surya bukan sekadar pilihan ramah lingkungan. Ini cara menghemat pengeluaran rumah tangga. Selama satu dekade, ia baru tiga kali mengganti aki. Harga satu aki sekitar Rp 350.000 dan bertahan sedikitnya dua tahun.
"Kalau hanya pakai listrik, bayarnya kadang naik. Buruh seperti saya kan kesulitan," ujar Bagyo. "Kalau pakai ini, hanya beli aki bekas saja sudah bisa 3 tahun. Tergolong ringan."
Dari Gempa 2006 ke Lampu Jalan: Awal Mula Kemandirian Energi di Ngemplak
Cerita pemanfaatan tenaga surya di Ngemplak berawal dari bencana besar. Muhammad Ahab, warga setempat, menceritakan gagasan itu muncul setelah gempa besar mengguncang Bantul pada 2006. Saat itu listrik padam dalam waktu lama, banyak rumah tenggelam dalam kegelapan. Kesulitan memperoleh listrik membuatnya berpikir mencari sumber energi alternatif. Dari situ, ia mulai belajar merakit sendiri perangkat tenaga surya dan membagikan pengetahuan serta peralatan kepada warga sekitar, termasuk Bagyo.
Kini, manfaatnya terasa saat pemadaman listrik terjadi. "Kalau listrik padam di sini masih terang," kata Bagyo.
Dulu Hampir Semua Warga Pakai, Kini Tinggal Segelintir yang Bertahan
Meski demikian, jumlah pengguna tenaga surya di Ngemplak terus berkurang. Menurut Bagyo, dulu hampir seluruh warga di kampungnya memanfaatkan tenaga matahari sebagai sumber penerangan tambahan. Seiring waktu, banyak yang kembali sepenuhnya ke listrik PLN ketika aki mulai rusak dan harus diganti.
"Di sini tinggal beberapa rumah yang memanfaatkan tenaga matahari. Lainnya mati karena tidak mau ganti aki," kata dia. "Padahal bermanfaat saat sering listrik mati."
Istri Bagyo, Ngadiyem, merasakan langsung manfaatnya. "Hemat. Kalau listrik mati jadi tidak takut dan tidak bingung mencari penerangan," kata dia.
Meski tenaga surya hanya digunakan untuk penerangan — untuk kebutuhan lain seperti kulkas dan memasak nasi, keluarganya masih menggunakan listrik PLN — semangat kemandirian energi di sudut Padukuhan Ngemplak tetap menyala. Ketika listrik padam dan kampung-kampung lain mulai gelap, lampu-lampu tenaga matahari di sana terus menjadi saksi bisu: solusi sederhana bisa bertahan lama.