YOGYAKARTA — Simpang empat Titik Nol Kilometer yang biasanya dipadati wisatawan berubah menjadi lautan atribut merah saat mahasiswa UMY menggelar aksi damai, Rabu sore. Mereka tergabung dalam Aliansi UMY Bergerak dan memilih titik nol sebagai simbol perlawanan mahasiswa sekaligus panggung untuk menarik perhatian publik.
Koordinator Umum Aliansi UMY Bergerak, Arif, mengatakan pemilihan lokasi itu strategis untuk membangkitkan memori kolektif perlawanan mahasiswa. "Kita memilih titik sentral daripada Yogyakarta yaitu berada di titik nol, sehingga hashtag daripada kita itu merahkan titik nol. Kita juga menarik perhatian dari masyarakat juga, supaya lebih aware," ujarnya dalam orasi di lokasi.
Delapan Tuntutan dan Kritik pada Program MBG
Dalam aksi yang berlangsung sejak pukul 14.00 WIB itu, massa membentangkan spanduk berisi kritik terhadap jalannya pemerintahan. Mereka menyampaikan delapan poin tuntutan yang mencakup kebijakan luar negeri hingga program domestik.
Salah satu sorotan tajam datang dari perwakilan UIN Suka Melawan, Dias Habibi. Ia mengkritik pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tergesa-gesa dan tanpa uji coba mendalam. "Ketika memang mau melakukan atau memberlakukan suatu kebijakan intervensi terhadap perbaikan gizi anak-anak kita, ya seharusnya dicoba dulu," kata Dias.
Ia mempertanyakan efektivitas program tersebut. "Apakah intervensi dengan makan bergizi gratis ini betul-betul meningkatkan kapasitas akademik mereka, betul-betul meningkatkan fokus belajar mereka atau tidak," lanjutnya.
Korupsi Badan Gizi Nasional: Sistem yang Bermasalah?
Dias juga menyoroti penangkapan tiga pimpinan tertinggi Badan Gizi Nasional (BGN) dalam kasus korupsi. Menurutnya, kasus itu bukan sekadar ulah oknum, melainkan kegagalan sistem. "Kalau semisal pemerintah ingin programnya ini berjalan dengan baik, perbaiki sistemnya, jangan menyalahkan oknum. Karena oknum bisa melakukan seperti itu, itu karena sistemnya. Sistemnya memungkinkan itu terjadi," tegasnya.
Selain MBG, aksi ini juga menyoroti kebijakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Mahasiswa mendesak pemerintah untuk lebih hati-hati dalam mengambil keputusan yang berdampak pada keuangan negara dan kesejahteraan rakyat.
Mengapa Titik Nol Kilometer Dipilih?
Pemilihan Titik Nol Kilometer bukan tanpa perhitungan. Kawasan ini merupakan pusat keramaian Yogyakarta yang kerap menjadi titik kumpul wisatawan domestik dan mancanegara. Dengan menggelar aksi di sana, mahasiswa berharap pesan mereka tidak hanya sampai ke pemerintah, tetapi juga ke publik luas.
Aksi damai ini menjadi pengingat bahwa kampus-kampus di Yogyakarta masih menjadi salah satu motor penggerak kritik sosial. Setelah UII dan UMY, bukan tidak mungkin aksi serupa akan menyusul dari universitas lain di kota pelajar ini.