YOGYAKARTA — Kenaikan harga BBM non subsidi yang berlaku sejak beberapa waktu lalu mengubah peta konsumsi bahan bakar di Kota Gudeg. Para pekerja swasta yang selama ini menjadi pengguna setia Pertamax kini dihadapkan pada pilihan sulit: membayar lebih mahal atau mengantre panjang untuk mendapatkan Pertalite.
Antrean Pertalite Makin Panjang, Waktu Mengisi Bensin Kini 20 Menit
Fenomena antrean panjang di SPBU bukan lagi monopoli pembeli Pertalite. Setelah harga Pertamax naik, sebagian pengguna BBM non subsidi mulai beralih ke bahan bakar bersubsidi, membuat antrean yang tadinya 5-6 kendaraan kini membengkak menjadi 8-10 kendaraan di jam sibuk. SPBU Dukuh dan SPBU Jogokariyan menjadi dua titik yang terpantau paling padat.
“Belum kepikiran ganti Pertalite, karena efektivitas waktu. Sekarang bisa 10–20 menit [mengantre] karena makin banyak dicari masyarakat,” ujar Nuryanto, pekerja swasta di Jogja, Sabtu (13/6/2026).
Pilih Bersepeda di Akhir Pekan, Dompet Lebih Hemat
Daripada terjebak dalam antrean, Nuryanto memilih strategi berbeda. Ia mulai mengurangi intensitas perjalanan motor dan mengganti aktivitas akhir pekan dengan bersepeda keliling kampung bersama keluarga. Padahal, sebelumnya ia rutin bepergian ke destinasi wisata menggunakan kendaraan bermotor.
“Kalau biasanya bepergian menggunakan sepeda motor, sekarang pakai sepeda keliling desa,” katanya.
Meski begitu, Nuryanto mengaku belum berniat beralih ke Pertalite. Ia tetap mempertahankan Pertamax sebagai bahan bakar utama, namun mengakui ada lonjakan pengeluaran mingguan. Dari semula Rp100 ribu per minggu, kini ia merogoh kocek sekitar Rp120 ribu untuk periode yang sama dengan intensitas perjalanan yang justru dikurangi.
Rp50.000 Kini Hanya Cukup untuk 3 Hari
Hal serupa dialami Rahmadhan, pekerja swasta lain yang sehari-hari menggunakan skuter matik. Ia juga memilih bertahan dengan Pertamax meski daya beli BBM-nya menurun drastis. “Dulu setiap ngisi Rp50.000 bisa buat 4–5 hari. Kemarin baru ngisi lagi setelah harga naik, [tapi] Rp50.000 cuma dapat [sekitar] 3 liter, paling cuma bertahan 2–3 hari,” ujarnya.
Rahmadhan mengaku malas melihat antrean Pertalite yang kini semakin panjang. “Enggak [berencana beralih ke BBM bersubsidi], tetap Pertamax, sudah kebiasaan [menggunakan BBM Pertamax] bertahun-tahun. Males juga lihat antrean Pertalite sekarang sepanjang itu,” katanya.
Transportasi Umum Belum Jadi Alternatif
Meski mengeluhkan biaya BBM, Rahmadhan belum mempertimbangkan beralih ke transportasi umum. Alasannya, tuntutan pekerjaannya mengharuskan mobilitas ke berbagai lokasi dalam satu hari, sehingga kendaraan pribadi masih menjadi pilihan paling praktis. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak kenaikan harga BBM non subsidi di Jogja tidak hanya dirasakan di kantong, tapi juga mengubah pola mobilitas dan gaya hidup masyarakat perkotaan.