YOGYAKARTA — Pola komunikasi singkat dan praktis di era digital dinilai perlahan menurunkan kemampuan orang tua untuk mendengarkan secara mendalam. Psikolog yang akrab disapa Novi itu mengatakan, anak sebenarnya tidak selalu membutuhkan nasihat atau instruksi dari orang tuanya.
“Anak-anak itu tidak butuh dinasihati terus. Mereka butuh didengarkan,” kata Novi kepada ANTARA, Rabu.
Kemampuan Mendengar yang Semakin Tergerus
Menurut Novi, banyak orang tua tanpa sadar belum terbiasa mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian. Ia mencontohkan, ukuran sederhana untuk mengecek kebiasaan ini adalah dengan bertanya pada diri sendiri: sanggupkah kita diajak ngobrol lama atau mendengarkan orang lain dalam waktu yang panjang?
“Kalau kita diajak ngobrol lama atau mendengarkan orang lain lama, kita betah enggak? Itu sebenarnya bisa jadi ukuran,” ujarnya.
Ruang Aman di Rumah Lebih Penting dari Instruksi
Novi menekankan bahwa kebiasaan orang tua yang terlalu cepat memberi solusi dapat membuat anak enggan terbuka. Anak bisa merasa tidak benar-benar dipahami, sehingga komunikasi dua arah pun terhambat.
“Jangan mudah menasihati karena itu menjadikan ruang tidak aman di rumah,” katanya.
Ia menjelaskan, kemampuan mendengarkan sebenarnya bisa dilatih dari hal-hal sederhana. Membiasakan diri untuk tidak memotong pembicaraan orang lain atau tidak buru-buru memberi tanggapan adalah langkah awal yang penting.
Perubahan Harus Dimulai dari Orang Tua
Psikolog UGM itu mengingatkan bahwa perubahan pola komunikasi dalam keluarga tidak bisa dimulai dari anak. Orang tualah yang harus menjadi teladan karena anak cenderung meniru kebiasaan yang mereka lihat sehari-hari di rumah.
“Membangun dialog yang hangat di rumah adalah kunci. Anak butuh ruang aman untuk didengarkan dengan penuh perhatian, bukan ruang yang penuh instruksi,” pungkas Novi.