DI YOGYAKARTA — Langkah ini diambil di tengah upaya pemerintah mempercepat program ketahanan pangan dan pengembangan food estate. Airlangga menilai Belarus memiliki pengalaman panjang dalam memproduksi alat berat yang bisa diadopsi Indonesia.
"Kami melihat perusahaan-perusahaan Belarus berpengalaman dalam memproduksi berbagai macam produk alat berat, terutama yang dapat memperkuat industrialisasi, mekanisasi pertanian modern, serta pengembangan industri alat berat di Indonesia," ujar Airlangga dalam keterangan resmi.
Tiga Pabrik Raksasa yang Dibidik
Airlangga bersama Wakil Menteri Industri Belarus Leonid Ryzkovsky meninjau langsung tiga perusahaan manufaktur utama. Pertama, Minsk Tractor Works (MTZ) yang memproduksi traktor dan mesin pertanian. Kedua, MAZ atau Minsk Automobile Plant yang fokus pada kendaraan komersial. Ketiga, BelAZ Holding Management Company yang dikenal sebagai produsen alat berat tambang dan konstruksi.
Dari ketiganya, perhatian khusus diberikan ke MTZ. Pabrik ini dinilai potensial mendukung program ketahanan pangan nasional. MTZ bahkan menyatakan kesiapan menyesuaikan spesifikasi traktor sesuai kebutuhan petani Indonesia.
Transfer Teknologi dan Pelatihan Jadi Tawaran Utama
Dalam pertemuan di Minsk, MTZ tidak hanya menawarkan produk jadi. Perusahaan itu juga membuka peluang transfer teknologi dan pelatihan bagi tenaga kerja Indonesia. Airlangga menyebut tawaran ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk membangun kemandirian industri alat berat.
Kunjungan kerja ini merupakan rangkaian Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI–Belarus. Forum itu membahas kerja sama perdagangan, ekonomi, dan teknik antara kedua negara. Airlangga hadir atas undangan Deputi Perdana Menteri Belarus.
Dampak ke Petani dan Industri Lokal
Jika kerja sama ini terealisasi, petani Indonesia bakal mendapatkan akses ke traktor modern dengan biaya yang lebih kompetitif. Selama ini, banyak alat pertanian di Indonesia masih impor dari negara lain dengan harga tinggi. Teknologi Belarus dinilai lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas.
Bagi industri alat berat dalam negeri, kerja sama ini bisa menjadi batu loncatan. Proses alih teknologi dari pabrik-pabrik Belarus diperkirakan mampu mempercepat produksi komponen lokal. Pemerintah menargetkan industri alat berat nasional bisa memenuhi 60 persen kebutuhan domestik dalam lima tahun ke depan.
Perundingan I-EAEU FTA sendiri masih berlangsung. Indonesia berharap kesepakatan ini bisa selesai pada akhir 2026. Belarus menjadi salah satu pintu masuk strategis ke pasar Eurasia yang mencakup Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Armenia.