YOGYAKARTA — Tanpa aturan yang jelas, Selin Sophia Oeksuez mengingatkan bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa terancam tergerus. Kekhawatiran ini disampaikan dalam kuliah tamu internasional bertajuk "Assessment in The Age of Digital Technology" yang digelar Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Senin (11/5/2026).
Ancaman di Balik Kemudahan AI
Menurut Selin, teknologi AI memang memberikan fleksibilitas dan meringankan beban pengerjaan tugas. Namun, di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada AI dan big data berpotensi mematikan pemikiran mendalam.
"Karena itu, manfaatkan teknologi hanya untuk mempermudah, bukan untuk membuat cara berpikir orang-orang intelektual menjadi tumpul," pesan dia dalam acara yang digelar di Yogyakarta, Senin lalu.
Tiga Peran Dosen dalam Mengintegrasikan AI
Selin menguraikan setidaknya ada tiga peran utama yang harus dijalankan dosen. Pertama, penyesuaian kurikulum, termasuk merancang strategi ujian dan tugas berorientasi proyek yang sulit dikerjakan AI secara instan.
Kedua, pengembangan kebijakan internal kampus, seperti meninjau ulang tujuan pembelajaran dan menyusun pedoman penggunaan teknologi. Ketiga, mengajarkan literasi dan etika AI kepada mahasiswa agar mereka paham batasan teknologi dan pentingnya integritas akademik.
Risiko Kesenjangan Digital dan Bias Teknologi
Ia juga menyoroti risiko lain yang mengintai, seperti kesenjangan keterampilan mahasiswa dalam mengoperasikan teknologi dan pudarnya kesadaran kritis akibat bias dari algoritma. Selin menekankan bahwa pembelajaran kognitif hanya akan efektif jika teknologi digunakan secara interaktif dan adaptif.
"Hal ini penting untuk memastikan setiap tugas bahkan karya ilmiah yang dihasilkan tetap memiliki orisinalitas dan tidak didominasi oleh pemakaian teknologi," tegas Selin.
Ia mengajak seluruh akademisi untuk tetap bertanggung jawab dan beretika dalam memanfaatkan AI demi menjaga marwah pendidikan tinggi di Indonesia.