YOGYAKARTA — Ancaman kesehatan dari hewan pengerat kembali menjadi perhatian setelah Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) mengeluarkan peringatan terkait penyebaran Hantavirus. Virus RNA ini diketahui menular melalui inhalasi aerosol dari urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Pakar mikrobiologi klinik FK UNAIR sekaligus pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (PERDALIN) Surabaya, Agung Dwi Wahyu Widodo, menjelaskan bahwa meskipun penularan antarmanusia sangat jarang terjadi, risiko paparan di lingkungan dengan populasi tikus tinggi tetap signifikan.
“Meskipun penularan antarmanusia sangat jarang terjadi, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan dari sarang tikus,” ujar Dr Agung dalam materi edukasinya, Kamis (14/5/2026).
Dua Kondisi Mematikan Akibat Hantavirus
Menurut Dr Agung, Hantavirus dapat memicu dua kondisi serius. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang fungsi ginjal dan bisa berujung pada gagal ginjal akut. Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dengan tingkat kematian yang cukup tinggi.
Kedua sindrom ini berkembang setelah masa inkubasi yang bervariasi. Gejala awal sering kali mirip flu berat, seperti demam tinggi, nyeri otot, dan sakit kepala, sehingga kerap tidak terdeteksi sejak dini.
Langkah Pencegahan: Kunci Utama Ada di Lingkungan Rumah
Dr Agung menekankan bahwa pengendalian populasi tikus atau rodensia menjadi langkah paling efektif untuk mencegah penyebaran virus ini. Masyarakat diminta rutin memeriksa lingkungan rumah dan menutup akses yang memungkinkan tikus masuk ke dalam bangunan.
Proses disinfeksi area yang berisiko juga perlu dilakukan menggunakan cairan desinfektan sesuai standar kesehatan. Penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesehatan saat menangani pasien suspek dinilai penting untuk meminimalkan risiko penularan.
“Hindari kontak langsung dengan debu maupun area yang terkontaminasi kotoran tikus,” imbuhnya.
Edukasi dan Surveilans Terus Digencarkan
Sebagai bagian dari edukasi publik, Fakultas Kedokteran UNAIR disebut terus aktif melakukan surveilans dan pemantauan apabila ditemukan gejala yang mengarah pada infeksi Hantavirus. Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi disertai riwayat kontak dengan lingkungan yang banyak aktivitas tikus.
Di wilayah perkotaan seperti Yogyakarta, kepadatan pemukiman dan sistem drainase yang kurang optimal kerap menjadi faktor risiko meningkatnya populasi tikus. Oleh karena itu, koordinasi antara dinas kesehatan, kelurahan, dan warga menjadi krusial untuk mencegah potensi wabah.