Dokumen pengadilan mengungkap Sam Altman tidak memiliki satu pun lembar saham di OpenAI, perusahaan yang kini memiliki valuasi 852 miliar dolar AS. Sementara para pendiri lainnya mengantongi kekayaan hingga puluhan miliar dolar, status kepemilikan Altman masih tertulis sebagai "TBD" atau belum ditentukan. Kondisi ini memicu spekulasi mengenai strategi jangka panjang Altman di tengah perseteruan hukumnya dengan Elon Musk.
Laporan terbaru dari persidangan antara Elon Musk dan OpenAI membuka tabir struktur kepemilikan salah satu perusahaan teknologi paling berharga di dunia. Di balik kesuksesan ChatGPT, Sam Altman secara formal tidak memiliki ekuitas di perusahaan yang ia pimpin. Dokumen tersebut hanya mencantumkan keterangan "TBD" (to be determined) di kolom kepemilikan saham miliknya.
Kondisi ini sangat kontras dengan rekan-rekan pendiri lainnya yang kini berstatus miliarder. Greg Brockman, mantan presiden OpenAI, mengakui dalam persidangan bahwa ia memegang saham senilai 30 miliar dolar AS (sekitar Rp 480 triliun) yang ia peroleh tanpa biaya awal. Begitu pula dengan Ilya Sutskever, mantan ilmuwan utama, yang memiliki porsi kepemilikan senilai 30 hingga 35 miliar dolar AS.
Kesenjangan Gaji dan Nilai Saham Eksekutif
Struktur kompensasi Altman juga tergolong tidak lazim bagi CEO perusahaan teknologi skala global. Berdasarkan formulir pajak perusahaan, Altman hanya menerima gaji tahunan sebesar 76.001 dolar AS atau setara Rp 1,2 miliar. Angka ini sangat kecil jika dibandingkan dengan tanggung jawabnya mengelola entitas bernilai 852 miliar dolar AS (sekitar Rp 13.632 triliun).
Awalnya, keputusan Altman untuk tidak mengambil saham didasari oleh misi OpenAI sebagai organisasi nirlaba pada 2015. Ia ingin memosisikan diri sebagai pemimpin netral yang keputusannya tidak didikte oleh keuntungan finansial pribadi. Namun, transisi OpenAI menjadi entitas capped-profit pada 2019 mengubah segalanya, kecuali status kepemilikan Altman yang tetap kosong.
Dominasi Investor Korporasi dan Yayasan
Struktur kepemilikan OpenAI saat ini didominasi oleh blok investor besar dan yayasan internal. Microsoft memimpin grup korporasi dengan kepemilikan 26,79 persen, yang kini nilainya meroket menjadi 228,3 miliar dolar AS (sekitar Rp 3.652 triliun). Di posisi berikutnya, SoftBank menguasai 11,66 persen saham senilai 99,3 miliar dolar AS.
- Microsoft: Investasi 13 miliar dolar AS, nilai saat ini 228,3 miliar dolar AS.
- SoftBank: Investasi 64,6 miliar dolar AS, nilai saat ini 99,3 miliar dolar AS.
- Amazon: Investasi 15 miliar dolar AS, nilai saat ini 39,7 miliar dolar AS.
- Sound Ventures: Investasi 30 juta dolar AS, nilai saat ini 1,3 miliar dolar AS.
Menariknya, OpenAI Foundation atau entitas nirlaba asli masih memegang 25,80 persen saham perusahaan. Porsi ini bernilai 219,8 miliar dolar AS dan disebut-sebut sebagai sumber potensial bagi alokasi saham Altman di masa depan. Para analis meyakini bahwa dewan komisaris hanya menunggu waktu yang tepat, kemungkinan setelah proses hukum dengan Elon Musk selesai, untuk memberikan saham retroaktif kepada Altman.
Strategi Kekayaan di Luar OpenAI
Meski tidak memiliki saham di OpenAI, Sam Altman tetap masuk dalam jajaran miliarder dunia dengan kekayaan pribadi melampaui 2 miliar dolar AS (sekitar Rp 32 triliun). Kekayaan ini tidak berasal dari ChatGPT, melainkan dari portofolio investasi pribadinya di berbagai perusahaan rintisan lain.
Altman diketahui memiliki investasi besar di perusahaan-perusahaan yang secara tidak langsung diuntungkan oleh perkembangan ekosistem kecerdasan buatan. Strategi ini memungkinkannya membangun kekayaan yang signifikan tanpa harus terikat langsung pada struktur saham OpenAI yang saat ini sedang menjadi objek sengketa hukum dan pengawasan regulasi.
Langkah Altman yang memegang kendali penuh atas dewan komisaris sejak akhir 2023 memperkuat posisinya dalam menentukan masa depan perusahaan. Pemberian saham yang dikaitkan dengan target valuasi 1 triliun dolar AS atau rencana penawaran umum perdana (IPO) diprediksi akan menjadi babak baru bagi kompensasi sang CEO di masa mendatang.