Pencarian

Pemkab Bantul Dukung Wisata Edukasi Pabrik Gula Madukismo, Pengunjung Bisa Naik Lori Keliling Pabrik

Selasa, 08 September 2026 • 21:14:31 WIB
Pemkab Bantul Dukung Wisata Edukasi Pabrik Gula Madukismo, Pengunjung Bisa Naik Lori Keliling Pabrik
Pengunjung mengikuti wisata edukasi di Pabrik Gula Madukismo dengan menaiki lori keliling area pabrik di Bantul, DIY.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), siap mendukung pengembangan wisata edukasi di Pabrik Gula Madukismo untuk memperkuat sektor pariwisata daerah. Dukungan ini mencakup penguatan publikasi dan promosi destinasi yang menawarkan pengalaman langsung melihat proses pengolahan tebu menjadi kristal gula itu.

BANTUL — Pabrik Gula Madukismo yang berdiri sejak 1955 di Kabupaten Bantul tidak hanya berfungsi sebagai pabrik produksi gula, tetapi juga menjadi destinasi agrowisata edukasi yang terus didorong perkembangannya oleh pemerintah daerah. Dukungan ini disampaikan menyusul potensi besar pabrik bersejarah tersebut dalam mengedukasi masyarakat mengenai proses pembuatan gula dan sejarah industri di Yogyakarta.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bantul, Singgih Riyadi, menegaskan pihaknya akan mendukung penuh aktivitas agrowisata dan wisata edukasi di pabrik tersebut. Bentuk dukungan yang disiapkan adalah penguatan publikasi dan promosi di berbagai media.

"Nanti kami akan mendukungnya dalam bentuk penguatan publikasi dan promosinya di media," kata Singgih di Bantul, Selasa.

Mesin Jerman 1955 yang Masih Beroperasi Jadi Daya Tarik Utama

Salah satu keunikan yang ditawarkan Pabrik Gula Madukismo adalah mesin-mesin produksinya yang merupakan buatan Jerman dan mulai digunakan sejak sekitar tahun 1955. Hingga kini, mesin-mesin tersebut masih berfungsi dengan baik dan menjadi saksi bisu perjalanan industri gula di tanah air.

"Sekarang masih berfungsi dengan baik," ujar Singgih menambahkan.

Menurutnya, peluang kolaborasi antardinas sangat terbuka lebar. Misalnya dengan Dinas Pariwisata Bantul melalui pengembangan wisata sport tourism maupun wisata berbasis heritage. Pabrik Gula Madukismo dinilai menjadi pelengkap destinasi wisata yang sudah ada di Bantul.

"Pabrik Gula Madukismo ini menjadi pelengkap destinasi wisata di Bantul, tinggal nanti tugas Dispar untuk mengemas dalam paket wisata," katanya.

Pengunjung Diajak Naik Lori Keliling Area Pabrik

Koordinator Pengembangan Aset PT Madubaru PG-PS Madukismo, Mahmud Safrudi, menjelaskan pabrik ini mulai dibuka untuk umum sejak 1997. Sejak saat itu, tempat ini lambat laun berkembang menjadi agrowisata andalan di Kabupaten Bantul.

"Untuk memperlihatkan pengunjung bagaimana proses pengolahan tebu menjadi kristal gula," ujar Mahmud.

Pengalaman wisata yang ditawarkan cukup unik. Para pengunjung akan diajak menyusuri kawasan pabrik menggunakan lori atau kereta tebu, kendaraan yang dulunya difungsikan untuk mengangkut tebu. Mereka juga dapat menyaksikan secara langsung bagaimana mesin-mesin produksi berukuran besar beroperasi lengkap dengan para pegawai yang tengah bekerja.

"Ada dua pabrik pengolahan yakni pabrik gula dan pabrik pembuatan alkohol medis dan farmasi," kata Mahmud.

Reservasi Wajib, Satu Rombongan Minimal 30 Orang

Bagi masyarakat yang ingin berkunjung, terdapat sejumlah ketentuan yang perlu diperhatikan. Calon pengunjung diwajibkan melakukan reservasi dan pembayaran biaya masuk terlebih dahulu agar jadwal kunjungan tidak bertabrakan dengan rombongan lain.

Dalam satu rombongan wisata, minimal harus berisi 30 orang dengan biaya masuk Rp13 ribu per orang. Apabila jumlah pengunjung terbatas, mereka akan digabungkan ke dalam paket kunjungan industri dengan tarif yang berbeda. Pabrik membatasi maksimal empat kunjungan per hari.

"Mulai jam 07.00 WIB sampai jam 14.00 WIB, karena nanti kloter terakhir berakhirnya jam 16.00 WIB, durasi tiap kunjungan dua jam," jelas Mahmud.

Dibangun Sri Sultan HB IX untuk Gantikan 17 Pabrik Gula

Pabrik Gula Madukismo memiliki nilai historis yang tinggi bagi Yogyakarta. Pabrik ini dibangun pada 1955 atas prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai pengganti 17 pabrik gula di Yogyakarta yang hancur.

"Tujuan utamanya yaitu untuk merekrut tenaga kerja yang dulunya bekerja di 17 pabrik gula tersebut," ujar Mahmud.

Kapasitas awal pabrik relatif kecil, hanya 1.500 Ton Cane per Day (TCD). Seiring perkembangan, kapasitasnya kini meningkat hingga 3.500 TCD dengan target produksi sekitar 250 ton gula per hari. Setiap harinya, pabrik ini menerima kunjungan wisata edukasi dari berbagai kalangan, mulai dari sekolah, PKL, magang, hingga peneliti yang ingin mempelajari proses pembuatan kristal gula dan nilai sejarahnya.

Follow jogjasatu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks