DI YOGYAKARTA — Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengungkapkan, dana Rp38 triliun itu merupakan akumulasi dari beberapa tahap penempatan. "Itu awalnya kami terima Rp25 triliun, ada beberapa tahapan, sempat dikembalikan juga. Terakhir posisinya di Rp38 triliun," ujarnya dalam paparan kinerja di Menara 2 BTN, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Tambahan Rp13 Triliun dari Gelombang Terakhir
Nixon menjelaskan, lonjakan saldo terjadi ketika pemerintah menggelontorkan dana SAL sebesar Rp100 triliun ke perbankan pada periode terakhir. Dari jumlah itu, BTN kebagian tambahan alokasi sekitar Rp13 triliun. Kebijakan ini merupakan bagian dari arahan pemerintah untuk memperkuat kapasitas kredit perbankan nasional.
Dana yang diterima BTN tidak dibiarkan mengendap. Bank pelat merah ini menyalurkannya ke sektor-sektor utama bisnis perseroan, yaitu Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit komersial, dan konstruksi.
Kucuran Kredit Terbesar untuk BUMN dan Bulog
Dari sisi penyaluran, porsi terbesar dana SAL tersebut mengalir ke sesama Badan Usaha Milik Negara (BUMN). "Agak banyak di BUMN, seperti Bulog dan sebagainya," ujar Nixon. Penyaluran ke BUMN menunjukkan peran BTN sebagai agen pembangunan yang mendukung likuiditas perusahaan-perusahaan negara.
Kredit yang disalurkan ke sektor strategis ini diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi, terutama di tengah tekanan likuiditas global. Dengan penarikan dana SAL, BTN harus menyesuaikan strategi pendanaan agar ekspansi kredit tetap berjalan tanpa bergantung penuh pada dana pemerintah.
Langkah pengembalian ini menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai melakukan konsolidasi fiskal setelah periode ekspansif. BTN sendiri dipastikan akan mengikuti jadwal setor yang telah ditetapkan oleh Kementerian Keuangan.