YOGYAKARTA — Kawasan Sumbu Filosofi yang membentang dari Tugu Pal Putih hingga Panggung Krapyak tak lagi hanya menjadi objek wisata budaya. Jalur sepanjang 6 kilometer itu kini disulap menjadi panggung bagi para pelaku UMKM untuk bernapas lebih lega, dengan bantuan para pelari yang setiap akhir pekan membanjiri rute tersebut.
Mox Space, sebuah ruang kreatif yang berlokasi di Jalan Jendral Sudirman, melihat celah itu. Mereka menggandeng lebih dari 20 komunitas lari yang aktif di Jogja untuk menciptakan siklus ekonomi baru. Setiap sesi lari pagi atau malam hari, para peserta diajak singgah ke warung-warung kecil, stan kuliner, dan gerai kerajinan yang berjejer di sepanjang rute.
Menolak Mati di Tengah Sepinya Pengunjung
Banyak UMKM di kawasan Sumbu Filosofi yang mengeluhkan sepinya pembeli sejak pandemi. Meski lalu lintas pejalan kaki mulai pulih, daya beli belum sepenuhnya bangkit. “Kami coba jembatani. Komunitas lari punya jadwal rutin dan jumlah anggota yang besar. Kalau mereka berhenti belanja di satu titik, dampaknya langsung terasa,” kata pengelola Mox Space dalam keterangannya, baru-baru ini.
Setiap komunitas lari rata-rata memiliki 50 hingga 200 anggota. Dengan jadwal mingguan yang konsisten, potensi transaksi di setiap titik UMKM bisa meningkat drastis. Beberapa pedagang di sekitar Jalan Margo Mulyo dan kawasan Titik Nol Kilometer mulai merasakan dampaknya dalam dua pekan terakhir.
Bukan Sekadar Olahraga, Tapi Gaya Hidup Berbelanja
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Jogja dikenal sebagai kota dengan jumlah komunitas lari tertinggi di Jawa Tengah dan DIY. Setiap akhir pekan, ribuan pelari memadati jalan protokol. Mox Space memanfaatkan momentum itu dengan menyediakan titik kumpul dan fasilitas penitipan barang di sepanjang rute, sehingga pelari lebih leluasa berhenti dan berbelanja.
“Kami tidak hanya lari lalu pulang. Sekarang ada agenda belanja. Biasanya kami mampir beli wedang jahe atau bakpia setelah lari,” ujar salah satu koordinator komunitas lari Jogja Runners.
Strategi ini juga didukung oleh Pemkot Yogyakarta yang tengah mendorong revitalisasi kawasan Sumbu Filosofi sebagai pusat kegiatan ekonomi kreatif. Dengan menggabungkan olahraga dan belanja, para pelari tak hanya membakar kalori, tapi juga ikut menghidupkan kembali denyut nadi UMKM yang sempat meredup.