DI YOGYAKARTA — Dubes RI untuk Kanada Muhsin Syihab mendorong agar ASEAN-Canada Free Trade Agreement (ACAFTA) memberi manfaat komersial nyata, termasuk bagi UMKM. Perdagangan dua arah Kanada-ASEAN pada 2025 mencapai 52,4 miliar dolar Kanada (sekitar Rp663 triliun), naik hampir 24 persen dibanding 2024. Porsi itu baru sekitar tiga persen dari total perdagangan Kanada dengan dunia, sehingga ruang ekspansi masih terbuka lebar.
Dorongan itu disampaikan Muhsin saat ASEAN Economic Symposium 2026 yang digelar di Ottawa, Kanada. Forum tersebut dihadiri sekitar 100 peserta dari kalangan pemerintah, parlemen, korps diplomatik, akademisi, pelaku usaha, dan mahasiswa.
KBRI Ottawa menjadi mitra penyelenggara simposium bertema Building Canada-ASEAN Economic Resilience and Accelerating Market Penetration dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite ASEAN di Ottawa (ACO) pada semester II 2026.
Nilai Perdagangan Naik 24 Persen, tetapi Porsinya Masih Tipis
Data yang dipaparkan dalam forum menunjukkan perdagangan barang dua arah Kanada-ASEAN menembus 52,4 miliar dolar Kanada (sekitar Rp663 triliun) pada 2025. Angka itu naik hampir 24 persen dari capaian 2024.
Meski tumbuh dua digit, kontribusinya baru sekitar tiga persen dari total perdagangan Kanada dengan seluruh dunia. Kesenjangan itu yang membuat Muhsin menilai ACAFTA punya peran strategis.
"Untuk itu, ASEAN-Canada Free Trade Agreement (ACAFTA), yang akan menjadi perjanjian dagang pertama ASEAN dengan mitra di Amerika Utara, dinilai menjadi instrumen kunci," kata Muhsin dalam siaran pers KBRI Ottawa yang diterima di Jakarta.
Perundingan Masuk Fase Penentuan, Target Kesepakatan Substantif November
Proses negosiasi ACAFTA kini memasuki fase penentuan menuju substantial conclusion pada KTT ke-49 ASEAN yang dijadwalkan November mendatang. Tenggat itu membuat pembahasan teknis di Ottawa jadi relevan bagi pelaku usaha yang ingin masuk pasar Kanada.
Panel diskusi menyoroti sejumlah isu krusial, mulai dari akses pasar dan ketentuan asal barang hingga pengurangan hambatan non-tarif. Pembahasan juga mencakup diversifikasi mitra dagang Kanada, peningkatan standar produk, hubungan antarmasyarakat, serta potensi ASEAN sebagai pasar dan sumber alternatif investasi.
Bagi Indonesia, Muhsin berharap ACAFTA melengkapi Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) dalam mendorong kerja sama ekonomi bilateral. Kombinasi keduanya dinilai memberi jalur ganda bagi eksportir nasional.
Peluang bagi UMKM dan Sektor Kuliner
Muhsin menegaskan manfaat perjanjian tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. Implementasi di lapangan menentukan apakah pelaku usaha, termasuk UMKM, benar-benar merasakan dampaknya.
"Penandatanganan perjanjian hanyalah langkah awal. Nilai sebuah perjanjian ditentukan oleh implementasi dan manfaat nyata yang dirasakan pelaku usaha dan masyarakat kita. Mari kita pastikan Kemitraan Strategis ini menghadirkan peluang ekonomi yang nyata bagi dunia usaha dan masyarakat kita," katanya.
Simposium di Ottawa juga memakai jalur kuliner untuk memperkenalkan ASEAN ke peserta. Indonesia menyajikan mi goreng Jawa, pastel ayam, dan talam ubi ungu, bersanding dengan sajian khas negara anggota lainnya.
Dampak bagi Pelaku Usaha Indonesia
Ketegangan pada sistem perdagangan global dan rantai pasok menjadi latar pembicaraan di Ottawa. Muhsin menilai situasi itu justru memperkuat kebutuhan mitra yang meyakini perdagangan terbuka.
"Sistem perdagangan global dan rantai pasok tengah berada di bawah tekanan. Dalam situasi seperti ini, mitra yang meyakini perdagangan terbuka dan predictable akan semakin saling membutuhkan, dan ASEAN serta Kanada adalah mitra tersebut," ujarnya.
Bagi UMKM Indonesia yang berminat menembus pasar Amerika Utara, hasil negosiasi ACAFTA akan menentukan besaran tarif dan kemudahan prosedur asal barang. Kedua faktor itu biasanya jadi penentu apakah produk skala kecil mampu bersaing di rak ritel Kanada.
Perhatian pelaku usaha kini tertuju pada putaran perundingan menuju KTT ASEAN November. Jika kesepakatan substantif tercapai sesuai jadwal, ACAFTA akan menjadi perjanjian dagang pertama ASEAN dengan negara Amerika Utara.