KARANGASEM — Dua kali dalam waktu berdekatan, kandang-kandang milik peternak di Kecamatan Abang menjadi sasaran pencurian sapi. Peristiwa ini memicu keresahan yang meluas di kalangan peternak di Kabupaten Karangasem, Bali, yang menggantungkan hidup pada ternak mereka.
Kapolres Karangasem, melalui keterangan resminya, mengonfirmasi bahwa penyelidikan telah menunjukkan perkembangan. "Kami sudah menemukan titik terang," ujarnya, tanpa merinci lebih lanjut detail penyelidikan yang masih berlangsung.
Keresahan Peternak di Gumi Lahar
Aksi pencurian yang terjadi di Abang bukanlah kasus pertama di wilayah tersebut. Para peternak mengaku waswas, terutama saat malam hari atau ketika harus meninggalkan kandang untuk waktu yang lama. Seekor sapi dewasa memiliki nilai ekonomis yang tinggi, mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah, sehingga kehilangan satu ekor saja sudah menjadi pukulan berat bagi keluarga peternak.
Modus Operandi dan Target Pelaku
Dari laporan yang masuk, pelaku diduga beraksi pada malam hari saat pemilik ternak sedang beristirahat. Sapi-sapi yang digondol biasanya yang berada di kandang paling luar atau yang tidak terikat dengan kuat. Polisi masih mendalami apakah kedua aksi ini dilakukan oleh komplotan yang sama atau berbeda.
Apa Langkah Polisi Selanjutnya?
Kapolres menyatakan pihaknya terus melakukan penyelidikan intensif. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan dan olah tempat kejadian perkara (TKP) dilakukan. "Kami imbau peternak untuk lebih waspada dan segera melapor jika melihat aktivitas mencurigakan di sekitar kandang," imbuhnya.
Berapa Kerugian yang Dialami Peternak?
Meski angka pasti kerugian masih dalam pendataan, setiap ekor sapi yang hilang bernilai antara Rp 10 juta hingga Rp 25 juta, tergantung ukuran dan jenisnya. Bagi peternak kecil, kehilangan satu ekor sapi bisa berarti hilangnya tabungan atau modal untuk musim tanam berikutnya.
Siapa yang Paling Terdampak?
Peternak di pedesaan Kecamatan Abang menjadi pihak yang paling merasakan dampak. Mereka mengaku terpaksa meningkatkan ronda malam dan mengunci kandang lebih rapat, meski tetap merasa tidak tenang. Sebagian bahkan memilih untuk menjual sapinya lebih cepat karena takut menjadi korban berikutnya.