YOGYAKARTA — Imam Muslim, warga bantaran Sungai Winongo, Wirobrajan, sukses membangun usaha budi daya tikus mencit yang kini mampu menghasilkan pendapatan setara UMR. Awalnya, ia hanya memiliki stok pakan reptil yang tidak termakan. Daripada terbuang, ia justru melihat peluang bisnis dari hewan pengerat tersebut.
Langkah Imam memelihara tikus sempat mendapat respons negatif dari tetangga. Banyak yang menganggapnya gila karena memelihara hewan yang identik dengan kotoran dan penyakit. Namun, Imam tetap bertahan dan mengembangkan usahanya secara konsisten.
Kesuksesan Imam kini tak bisa dipandang sebelah mata. Omzet dari budi daya mencitnya disebut-sebut mampu menyaingi pendapatan pekerja di sektor formal. Hal ini membuktikan bahwa sektor informal, khususnya budi daya hewan alternatif, memiliki prospek ekonomi yang cerah.
Budi daya mencit memiliki pangsa pasar yang jelas. Selain sebagai pakan ular dan reptil, mencit juga digunakan untuk pakan burung pemangsa serta kebutuhan laboratorium. Permintaan yang stabil membuat harga jual mencit relatif terjaga.
Imam memanfaatkan lahan sempit di bantaran sungai untuk kandang. Metode budi daya yang diterapkannya tergolong sederhana namun efisien. Ia fokus pada kualitas pakan dan kebersihan kandang untuk menjaga kesehatan ternak.
Keberhasilan Imam membuka mata warga sekitar bahwa bantaran sungai tidak hanya untuk tempat tinggal, tetapi juga bisa menjadi lokasi usaha produktif. Usaha ini pun mulai dilirik sebagai alternatif sumber pendapatan bagi warga yang ingin memiliki usaha sampingan.
Dengan modal yang relatif kecil dan perawatan yang tidak rumit, budi daya mencit dinilai cocok untuk pemula. Imam berencana untuk mengedukasi warga sekitar agar bisa meniru kesuksesannya.