Pencarian

4 Kebiasaan Unik Warga Jogja yang Sering Menular ke Pendatang, dari Tak Pernah Klakson hingga Hafal Arah Mata Angin

Rabu, 29 Juli 2026 • 08:47:31 WIB
4 Kebiasaan Unik Warga Jogja yang Sering Menular ke Pendatang, dari Tak Pernah Klakson hingga Hafal Arah Mata Angin
Suasana lalu lintas di Yogyakarta, pengendara motor dan mobil tertib menunggu lampu merah tanpa membunyikan klakson.

YOGYAKARTA — Tinggal di Yogyakarta memberikan pengalaman tersendiri bagi para pendatang, terutama dalam hal kebiasaan sehari-hari yang mungkin tidak ditemukan di kota asal mereka. Seorang warga lokal, Muhammad Ubaidillah Hanan, mengamati bahwa beberapa rutinitas warga Jogja yang dianggap biasa justru dinilai unik dan perlahan-lahan diikuti oleh teman-temannya yang berasal dari luar daerah.

Hening di Lampu Merah: Tradisi Tak Bersuara

Salah satu pemandangan yang paling mencolok adalah hampir tidak adanya suara klakson di persimpangan jalan, terutama saat lampu merah menyala. Di kota-kota besar lain, membunyikan klakson saat menunggu giliran mungkin hal lumrah, namun tidak di Yogyakarta.

"Di Jogja membunyikan klakson saat lampu masih merah rasanya seperti melanggar kesepakatan yang tak tertulis," tulis Hanan dalam tulisannya di Terminal Mojok. Menurutnya, fungsi klakson di kota ini lebih sering digunakan untuk menyapa teman yang berpapasan di jalan, bukan untuk memacu pengendara lain. Jika ada pengendara yang nekat membunyikan klakson saat lampu merah, ia harus siap menerima tatapan dari pengendara di kanan, kiri, depan, bahkan dari penjual angkringan di pinggir jalan.

Trotoar untuk Pejalan Kaki, Bukan Motor

Kebiasaan lain yang jarang ditemukan di Jogja adalah pengendara motor yang naik ke atas trotoar. Di kota-kota padat seperti Jakarta, trotoar kerap dijadikan jalur alternatif oleh pengendara motor, bahkan hingga berbaris panjang. Namun, di Yogyakarta, praktik ini sangat jarang terlihat, terutama di jalan-jalan besar seperti Gejayan. Meski di beberapa titik lampu merah sempit seperti perempatan SCH mungkin ada pelanggaran, secara umum trotoar di Jogja masih dihormati sebagai ruang pejalan kaki.

Soto: Menu Sarapan Favorit Warga Jogja

Kebiasaan kuliner warga Jogja juga memiliki keunikan tersendiri. Bagi warga lokal, soto bukanlah hidangan malam, melainkan menu sarapan utama. Warung-warung soto di kota ini, seperti Soto Sarem di kampus UNY, selalu ramai dikunjungi sejak pagi hingga siang hari. "Padahal di luar Jogja sarapan soto bukan hal yang populer. Banyak menu sarapan lain yang sama juga diminati," tulis Hanan. Sebaliknya, menyantap soto pada malam hari di Jogja justru akan dianggap aneh oleh warga setempat.

Panduan Arah Mata Angin: Skill Wajib Warga Jogja

Keunikan lain yang kerap membingungkan pendatang adalah kebiasaan warga Jogja menggunakan arah mata angin sebagai penunjuk jalan. Alih-alih menyebutkan nama jalan atau bangunan, warga lokal lebih sering memberi petunjuk seperti, "Dari Tugu ambil arah selatan, nanti ketemu perempatan, terus ke timur sekitar 500 meter."

Bagi yang tidak terbiasa, petunjuk semacam ini bisa membingungkan. Namun, warga lokal memiliki trik sederhana: cukup melihat Gunung Merapi yang menjadi penanda arah utara kota. "Kalau masih kesulitan, duh, skill issue sih itu. Ancer-ancere wae jelas kok," canda Hanan.

Menurut Hanan, pendatang yang berhasil menyerap kebiasaan-kebiasaan ini bisa dianggap beruntung karena mendapat keterampilan baru yang mungkin berguna di kemudian hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya lokal Yogyakarta memiliki daya tarik dan pengaruh yang kuat, bahkan mampu mengubah kebiasaan orang-orang yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.

Bagikan
Sumber: mojok.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks