Pencarian

IHSG Melemah di Tengah Sikap Wait and See Jelang Rapat The Fed, Rupiah Tertekan ke Rp17.953

Senin, 27 Juli 2026 • 13:45:01 WIB
IHSG Melemah di Tengah Sikap Wait and See Jelang Rapat The Fed, Rupiah Tertekan ke Rp17.953
IHSG dibuka melemah di tengah sikap wait and see pelaku pasar menjelang rapat Federal Reserve.

JAKARTA — IHSG diperkirakan masih akan bergerak cenderung melemah dengan kisaran support di level 6.060 dan resistance di level 6.300. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, selama IHSG masih bertahan di atas area support tersebut, tekanan yang terjadi masih berupa koreksi wajar sebagai respons atas sentimen global.

Tiga Sentimen Global yang Menekan Pasar

Pelaku pasar saat ini mencermati tiga agenda utama pekan ini. Pertama, keputusan suku bunga The Fed dalam Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 Juli 2026. Kedua, arah kebijakan Bank of Japan (BoJ) dan Bank of England (BoE). Ketiga, rilis data inflasi PCE AS, pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2026, serta data durable goods orders AS.

Dari sisi positif, harga minyak mentah Brent yang sempat mendekati level 100 dolar AS per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS per barel. “Penurunan harga minyak mentah dapat meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global, mengurangi tekanan terhadap kebijakan suku bunga bank sentral, serta menurunkan risiko kenaikan biaya energi bagi dunia usaha,” ujar Hendra.

Pengunduran Diri Perry Warjiyo: Stabilitas Terjaga?

Di dalam negeri, pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI menjadi perhatian pasar. Namun, penunjukan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur BI dinilai memberikan sinyal kesinambungan kebijakan moneter. “Destry merupakan bagian dari perumus kebijakan Bank Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sehingga pasar cenderung menilai tidak akan terjadi perubahan kebijakan yang signifikan selama masa transisi,” kata Hendra.

Kondisi ini tercermin dari pergerakan rupiah yang masih relatif stabil di kisaran Rp17.953 per dolar AS atau melemah sekitar 0,23 persen. “Pasar belum bereaksi secara berlebihan terhadap kabar tersebut,” tambahnya.

Bursa Regional dan Wall Street: Variatif

Pada perdagangan Jumat (24/7) pekan lalu, bursa Eropa kompak menguat. Euro Stoxx 50 naik 1,14 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,91 persen, DAX Jerman naik 1,36 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 0,88 persen. Sementara itu, bursa Wall Street bergerak variatif: S&P 500 menguat 0,05 persen ke 7.411,98, Dow Jones naik 0,46 persen ke 51.947,25, namun Nasdaq Composite melemah 1,15 persen ke 28.128,81.

Bursa Asia pagi ini juga bervariasi. Nikkei menguat 0,10 persen, Shanghai naik 1,8 persen, Hang Seng menguat 0,23 persen. Sementara Kospi melemah 1,18 persen dan Strait Times turun 0,27 persen.

Bagi Investor: Posisi Gubernur BI Vital

Hendra menekankan bahwa posisi Gubernur BI merupakan salah satu jabatan yang sangat vital bagi pasar. Setiap keputusan terkait suku bunga acuan, kebijakan nilai tukar, pengendalian inflasi, hingga kebijakan makroprudensial akan mempengaruhi pergerakan rupiah, pasar obligasi, maupun IHSG. “Investor perlu mencermati langkah Plt. Gubernur BI ke depan, terutama dalam merespons hasil rapat The Fed pekan ini,” pungkasnya.

Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks