Pencarian

1.001 Pembatik Turun ke Malioboro, Batik Sepanjang 550 Meter Digelar Sambut Hari Batik Nasional

Senin, 05 Oktober 2026 • 13:32:02 WIB
1.001 Pembatik Turun ke Malioboro, Batik Sepanjang 550 Meter Digelar Sambut Hari Batik Nasional
pembatik mengikuti aksi membatik massal di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (3/10).

Sebanyak 1.001 pembatik mengikuti aksi membatik massal di Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, Sabtu (3/10), dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional. Kain sepanjang 550 meter dibentangkan dari Simpang Empat Terang Bulan hingga Monumen Serangan Umum 1 Maret, mengusung motif Sumbu Filosofi Yogyakarta. Aksi bertajuk "Simfoni 1001 Pembatik 2026" ini digelar untuk menumbuhkan rasa kepemilikan generasi muda terhadap batik tradisional.

YOGYAKARTA — Keterlibatan anak muda dalam aksi membatik massal di Malioboro dinilai menjadi bukti tumbuhnya rasa kepemilikan generasi penerus terhadap batik. Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Emi Suryandari menyebut hal itu saat membuka acara.

Rasa Kepemilikan Anak Muda Jadi Sorotan

"Saya lihat banyak sekali anak-anak muda yang ada di sekitar kita kali ini, artinya mereka juga sudah mempunyai rasa kepemilikan terhadap batik," kata Emi Suryandari di Yogyakarta.

Emi mengajak generasi muda menjadikan batik bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan warisan yang terus hidup, berkembang, dan berinovasi.

"Saya sangat ingin anak-anak muda yang ada di sekitar panggung ini, tolong cintai batik asli Indonesia. Karena kalau tidak, maka budaya ini tidak akan ada yang melestarikan," ujarnya.

Membatik Sepanjang 550 Meter dari Terang Bulan hingga Monumen Serangan Umum

Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan Noviar Rahmat mengatakan aksi membatik massal berlangsung sepanjang 550 meter, dimulai dari Simpang Empat Terang Bulan hingga Monumen Serangan Umum 1 Maret.

Lokasi di Malioboro dipilih agar masyarakat luas dan dunia internasional mengetahui Yogyakarta tetap eksis sebagai kota batik dunia.

Motif Sumbu Filosofi Jadi Tema Utama

Ketua Panitia Simfoni 1001 Pembatik 2026 Indah Rahayu Murnihati menjelaskan angka 1.001 dipilih sebagai target awal untuk merangkul masyarakat luas agar lebih mengenal warisan budaya batik.

Antusiasme warga tinggi. "Saya sampai kewalahan, setiap hari ada yang telepon, bahkan tadi malam masih menginginkan ikut," katanya.

Seluruh peserta membatik kain secara beriringan dengan urutan motif mulai dari Gunung Merapi, Tugu, Keraton, Plengkung, Panggung Krapyak, hingga Laut Selatan.

Kadin Harap Jadi Agenda Tahunan

Wakil Ketua Kadin DIY Gunarta Adibrata berharap aksi kolaboratif di pusat perekonomian Kota Yogyakarta itu terus dikembangkan menjadi agenda tahunan.

"Kadin berharap agar kegiatan semacam ini dapat berkembang dan menjadi agenda budaya dan pariwisata tahunan di Daerah Istimewa Yogyakarta," katanya.

Persaingan Batik Tradisional vs Batik Cetak

Salah satu peserta, Nugraheni, mengaku tertantang membatik di area publik. Ia menyoroti beratnya persaingan batik tradisional melawan maraknya batik cetak.

Menurut Nugraheni, batik tradisional perlu terus didukung karena memiliki pakem serta nilai cerita pada setiap motifnya. Batik Indonesia, katanya, sudah mendunia dan anak-anak muda diminta mencintainya.

Follow jogjasatu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks