DI YOGYAKARTA — Tenggelamnya MV Le Joola, kapal milik Pemerintah Senegal, menjadi salah satu bencana maritim terbesar dalam sejarah dunia. Peristiwa ini terjadi saat kapal sedang dalam perjalanan dari Casamance menuju ibu kota Senegal, Dakar, dan baru beroperasi kembali selama dua minggu setelah setahun tidak digunakan akibat kendala mesin.
Kapal Overkapasitas, Suap dan Penumpang Tanpa Tiket
Kapal yang seharusnya hanya mampu menampung 536 penumpang itu diperkirakan membawa lebih dari 2.000 orang saat berlayar. Kondisi penuh sesak ini disebut terjadi karena adanya oknum petugas yang menerima suap dan penumpang yang naik tanpa tiket.
Badai melanda pada malam kejadian. Hujan mulai turun dan seluruh penumpang diminta masuk ke dalam ruangan. Seorang saksi mata melihat lampu kapal berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam total.
Kapal Terbalik Total, Penumpang Terjebak di Dalam Lambung
Salah satu penyintas, Mariama Diouf, menceritakan bahwa ia menyadari ada yang tidak beres sebelum kapal terbalik sepenuhnya. Setelah kapal terbalik, banyak orang terjebak di dalam lambung kapal. Sebagian penumpang berhasil menyelamatkan diri, tetapi sebagian lainnya tertinggal dan berteriak meminta tolong.
Tim penyelamat baru tiba di lokasi minimal 10 jam setelah kecelakaan terjadi. Para nelayan di sekitar perairan justru menjadi pihak pertama yang datang memberikan bantuan. Keterlambatan penanganan ini disebut menjadi faktor utama tingginya jumlah korban jiwa.
Bangkai Kapal Belum Dievakuasi Hingga 20 Tahun
Hingga dua dekade setelah kejadian nahas tersebut, keluarga korban masih meminta Pemerintah Senegal untuk mengangkat bangkai MV Le Joola dari dasar laut. Namun, hingga saat ini kapal tersebut belum juga dievakuasi.
Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban yang tersebar di 12 negara. Tuntutan untuk mengevakuasi bangkai kapal terus disuarakan sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi ribuan korban yang belum ditemukan.