DI YOGYAKARTA — Kebutuhan investasi pembangkit dan jaringan energi terbarukan Indonesia hingga 2060 mencapai US$1 triliun atau setara Rp17.892 triliun dengan asumsi kurs Rp17.892 per dolar AS. Angka itu terungkap dalam pre-event Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Rabu (30/9), yang juga memproyeksikan kebutuhan listrik nasional 600 TWh pada 2030.
Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ellen Setiadi menyebut kebutuhan mobilisasi investasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8 persen mencapai US$799 miliar. Pembangunan pembangkit dan jaringan energi terbarukan hingga 2060 menuntut tambahan sekitar US$1 triliun.
Angka-angka itu muncul dalam forum bertajuk Resilient Business in the Net Zero Era. Pemerintah memakai forum tersebut untuk memetakan kebutuhan pembiayaan transisi energi sekaligus mengukur kesiapan dunia usaha menyambut target net zero.
Kebutuhan Listrik Naik, Interkoneksi Antarpulau Dikebut
Konsumsi listrik nasional diproyeksikan mendekati 2.000 kilowatt hour per kapita pada 2030, dengan total kebutuhan mencapai 600 terawatt hour. Industrialisasi, digitalisasi, dan elektrifikasi menjadi tiga pendorong utama lonjakan permintaan tersebut.
Untuk menutup kebutuhan itu, pemerintah menyiapkan penguatan infrastruktur kelistrikan yang mencakup transmisi, interkoneksi, penyimpanan energi, dan sistem kelistrikan fleksibel. Salah satu proyek yang masuk peta jalan adalah green super grid sepanjang 70 ribu kilometer hingga 2040.
Ellen menargetkan interkoneksi antarpulau, termasuk jalur Sumatera-Jawa, mulai tersambung pada 2032 hingga 2035. "Kita mendorong PLN sampai 2040 paling lambat, 2032 sampai 2035 mestinya interkoneksi antarpulau ini sudah bisa terjalin atau sudah bisa tersambung," ujarnya.
Pemerintah juga mendorong pengembangan industri dalam negeri sebagai penopang transisi energi. Kapasitas industri modul surya nasional saat ini tercatat 11 GW per tahun.
Harga Energi Naik, Biaya Produksi Ikut Terbebani
Country Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi menilai transisi menuju net zero sudah bergeser dari sekadar isu lingkungan menjadi persoalan daya saing usaha. Lonjakan harga energi langsung merembet ke biaya produksi dan logistik perusahaan.
Ia mencontohkan pada kuartal II 2026, saat harga minyak acuan Brent naik sekitar 27 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Proporsi biaya transportasi dan penanganan pada dua perusahaan semen dengan pangsa pasar terbesar rata-rata ikut naik sekitar 13,25 persen.
"Perubahan harga energi tidak berhenti di pasar minyak, dampaknya masuk sampai ke biaya produksi dan daya saing perusahaan," kata Nirarta.
Transisi Rendah Karbon Berpeluang Angkat PDB
Riset Pusat Studi Energi UGM bersama Climate Catalyst menunjukkan skenario transisi industri baja berpotensi mendorong pertumbuhan PDB riil tahunan sekitar 0,21 persen hingga 0,25 persen. Angka itu lebih tinggi dibanding skenario business as usual yang hanya sekitar 0,06 persen.
Nirarta menyebut solusi rendah karbon bisa menjadi peluang ekonomi bila mampu meningkatkan efisiensi, membuka pasar baru, dan menciptakan nilai tambah. "Transisi rendah karbon tidak hanya dapat menurunkan emisi, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan dan memperkuat daya saing industri Indonesia," ujarnya.
Dunia usaha, kata dia, menuntut tiga hal agar transisi berjalan: sinyal pasar yang jelas, kebijakan dan infrastruktur yang memberi kepastian, serta akses teknologi dan pembiayaan.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Industri
Kebutuhan pembiayaan US$799 miliar hingga US$1 triliun membuka ruang besar bagi investor institusi, perbankan, dan penerbit obligasi hijau. Proyek transmisi dan interkoneksi antarpulau menjadi sektor paling awal menyerap dana karena harus rampung sebelum pembangkit baru beroperasi penuh.
Bagi emiten semen, baja, dan logistik, kenaikan biaya energi kuartal II 2026 menjadi peringatan bahwa eksposur terhadap harga minyak masih signifikan. Perusahaan yang lebih cepat mengunci kontrak energi terbarukan berpotensi menekan volatilitas biaya produksi jangka panjang.