Pencarian

Harga Pertamax Naik Rp3.950 per Liter di Yogyakarta dan Jawa Tengah, DPR Minta Pemerintah Perhatikan Daya Beli Masyarakat

Senin, 15 Juni 2026 • 22:50:01 WIB
Harga Pertamax Naik Rp3.950 per Liter di Yogyakarta dan Jawa Tengah, DPR Minta Pemerintah Perhatikan Daya Beli Masyarakat
Harga Pertamax naik Rp3.950 per liter di Yogyakarta dan Jawa Tengah mulai 10 Juni 2024.

YOGYAKARTA — Pemerintah memastikan hanya menaikkan harga BBM nonsubsidi, sementara BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap di harga lama. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade menegaskan kebijakan ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan harga minyak dunia.

Anggapan Kenaikan Semua BBM Tidak Tepat

Andre menyebut sekitar 77 hingga 80 persen konsumsi bensin kendaraan di Indonesia masih menggunakan BBM bersubsidi, terutama Pertalite. Sisanya, sekitar 20-23 persen, adalah pengguna BBM nonsubsidi seperti Pertamax.

"Anggapan bahwa pemerintah menaikkan seluruh jenis BBM tidak sesuai dengan fakta di lapangan," kata Andre dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Senin.

Kenaikan Pertamax: Rp12.300 Jadi Rp16.250 per Liter

PT Pertamina Patria Niaga resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) sebesar Rp3.950 per liter. Kini harga BBM nonsubsidi itu menjadi Rp16.250 per liter untuk wilayah DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Kenaikan berlaku mulai Rabu (10/6) pukul 00.00 WIB. Sebelumnya, harga Pertamax bertahan di angka Rp12.300 per liter selama beberapa bulan.

BBM Nonsubsidi Lain Ikut Naik, Pertalite Tetap Rp10.000

BBM nonsubsidi jenis Pertamax Green 95 juga ikut melonjak dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Sementara Pertamax Turbo bertahan di angka Rp20.750 per liter.

Untuk BBM bersubsidi, harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar di Rp6.800 per liter. Pemerintah menahan harga ini agar tidak membebani masyarakat luas.

Alasan Pemerintah Akhirnya Naikkan Harga Pertamax

Andre menjelaskan harga BBM nonsubsidi sangat dipengaruhi pergerakan harga minyak dunia dan perkembangan geopolitik internasional. Pemerintah tidak mungkin terus-menerus menahan harga karena dapat membebani keuangan negara.

"Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional," ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah berupaya mencari titik keseimbangan antara keberlanjutan fiskal dan kebutuhan konsumen pengguna BBM nonsubsidi.

Yang Terpenting: BBM Subsidi Tidak Naik

Menurut Andre, kebijakan ini menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada masyarakat yang membutuhkan. Harga BBM bersubsidi tidak naik, dan masyarakat tetap mendapatkan perlindungan.

"Pemerintah tetap menjaga agar harga BBM bersubsidi tidak naik dan memastikan masyarakat tetap mendapatkan perlindungan," katanya.

Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks