YOGYAKARTA — SMAN 1 Jogja kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Pada tahun 2026, tujuh siswanya berhasil menembus seleksi masuk ke berbagai universitas di luar negeri. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak 2024, ketika sekolah tersebut mencatatkan empat siswa yang diterima di kampus global.
Tren Kenaikan dalam Tiga Tahun: 2024, 2025, 2026
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 Jogja, Sri Lestari, mengonfirmasi data tersebut. Ia menyebut, pada 2024 ada empat siswa yang diterima, naik menjadi enam siswa pada 2025, dan kini tujuh siswa pada 2026.
"Tahun ini ada tujuh yang diterima dan ada tiga yang masih menjalani proses seleksi tahap akhir. Ada peningkatan dari tahun ke tahun," ujar Lestari saat dihubungi detikJogja, Jumat (12/6/2026).
Ia menambahkan, sekolah optimistis capaian ini akan terus bertambah pada tahun-tahun mendatang.
Bukan Hanya Nilai Akademik: Kunci Sukses Siswa Teladan
Menariknya, siswa yang berhasil lolos seleksi bukanlah mereka yang paling menonjol secara akademik di kelas. Lestari menjelaskan, para siswa ini memiliki nilai tambah lain yang menjadi pembeda dalam seleksi ketat di kampus luar negeri.
"Sebenarnya siswa yang diterima di luar negeri menonjolnya tidak, tapi ada sisi plusnya, yaitu siswa mempunyai kemampuan bahasa asing yang lebih dibanding siswa lain. Untuk kemampuan akademik rata-rata di atas, tapi tidak menonjol banget. Di samping itu siswa mempunyai kemampuan sosial yang bagus," jelasnya.
Kombinasi antara kecakapan bahasa asing dan keterampilan sosial ini menjadi modal utama yang dicari oleh universitas di luar negeri.
Strategi Sekolah: Global Mindset dan Proyek SDGs
Keberhasilan ini tidak terjadi secara instan. SMAN 1 Jogja telah menerapkan sejumlah strategi sejak awal untuk membekali siswanya. Salah satu yang utama adalah membangun budaya sekolah berwawasan global atau global mindset.
"Kuncinya diawali dengan membangun budaya sekolah berwawasan global (global mindset), identifikasi siswa potensial sejak awal dan lakukan pembinaan intensif, kolaborasi dari berbagai pihak, serta mengintegrasikan proyek berbasis SDGs dan isu internasional dalam pembelajaran," ungkap Lestari.
Pendekatan ini memungkinkan siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki perspektif luas terhadap isu-isu global. Sekolah berharap pola pembinaan ini bisa terus menghasilkan lulusan yang kompetitif di tingkat internasional.