DI YOGYAKARTA — Proyeksi tersebut muncul dari survei Visible Alpha yang melibatkan 20 analis. Angka pengiriman 402.780 unit juga berarti tumbuh 12,5% dibandingkan kuartal sebelumnya. Pendorong utama pertumbuhan ini diperkirakan berasal dari Eropa, bukan dari pasar utama Tesla lainnya.
Deutsche Bank mencatat Eropa akan menjadi wilayah dengan pertumbuhan tercepat bagi Tesla pada kuartal ini, dengan lonjakan hampir 40%. Sebaliknya, Amerika Utara justru diprediksi ambles 21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, Tiongkok hanya tumbuh tipis sekitar 3%.
Kenaikan harga bahan bakar akibat ketegangan di Timur Tengah disebut mendorong konsumen Eropa beralih ke kendaraan listrik. Kondisi ini menjadi angin segar setelah tahun 2025 yang berat, ketika penjualan Tesla di Eropa justru merosot tajam. Salah satu penyebabnya adalah reaksi negatif pelanggan terhadap pernyataan politik CEO Elon Musk yang merusak citra merek.
Peluncuran sistem bantuan pengemudi tingkat lanjut atau Full Self-Driving (FSD) juga dinilai analis bisa mendongkrak penjualan Tesla di Eropa. Namun, fitur ini saat ini baru berlisensi di beberapa negara. Uni Eropa dijadwalkan mengambil keputusan soal potensi peluncuran yang lebih luas pada akhir tahun ini.
Di Amerika Serikat, Tesla masih menghadapi tantangan besar. Insentif pajak federal sebesar $7.500 untuk kendaraan listrik dari pemerintahan Biden diperkirakan berakhir pada September 2025. Hal ini dikhawatirkan semakin menekan permintaan di pasar domestik.
Untuk menjaga daya saing di tengah persaingan ketat pasar kendaraan listrik global, Tesla terus meluncurkan varian dengan harga lebih rendah dari dua model andalannya: Model 3 Standard dan Model Y Standard. Langkah ini sudah berlangsung selama setahun terakhir untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.
Penting dicatat, Tesla tidak merilis angka pengiriman regional secara detail. Penilaian analis sejauh ini hanya didasarkan pada data pasar dan tren penjualan yang tersedia.