YOGYAKARTA — IHSG dibuka menguat tipis 35,90 poin atau 0,61 persen ke posisi 5.932,03 pada awal pekan. Namun, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai pergerakan indeks masih dalam fase konsolidasi.
“Secara teknikal, pergerakan indeks masih berada dalam fase konsolidasi dengan pelaku pasar mencermati kemampuan IHSG bertahan di area support 5.882 atau 5.688 atau 5.520,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Dari mancanegara, investor akan mencermati sejumlah data penting. Yang paling dinanti adalah data Non-Farm Payrolls (NFP) AS, tingkat pengangguran AS, serta pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh. Selain itu, data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTs) AS dan inflasi Zona Euro juga menjadi perhatian.
Sentimen positif sempat muncul setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan damai sementara. Hal ini membuka peluang kembali beroperasinya Selat Hormuz dan meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
“Kesepakatan tersebut meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global, sehingga turut menekan harga minyak dunia dan membantu menjaga stabilitas sentimen pasar keuangan,” kata Liza.
Namun, data inflasi PCE AS yang sesuai ekspektasi justru membuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed sedikit berkurang. Hal ini membatasi penguatan aset berisiko, termasuk saham di bursa Asia.
Di dalam negeri, pelaku pasar akan menanti data PMI Manufaktur Indonesia, inflasi Juni, serta neraca perdagangan. Tiga indikator ini dinilai krusial untuk mengukur kekuatan aktivitas ekonomi dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) ke depan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis perekonomian Indonesia mampu tumbuh hingga 8 persen. Optimisme ini didorong oleh semakin kuatnya fondasi ekonomi nasional, reformasi fiskal yang berlanjut, serta meningkatnya kontribusi investasi dan sektor swasta.
Pemerintah juga menegaskan bahwa proses restitusi pajak berjalan normal. Hingga empat bulan pertama 2026, pemerintah telah mencairkan restitusi sekitar Rp160 triliun. Jika tren ini berlanjut, total restitusi sepanjang tahun diperkirakan mencapai sekitar Rp500 triliun.
Pada perdagangan Jumat pekan lalu, bursa Eropa dan Wall Street kompak ditutup di zona merah. Euro Stoxx 50 melemah 0,73 persen, sementara DAX Jerman turun 1,29 persen. Di AS, Dow Jones melemah 0,09 persen dan Nasdaq Composite turun 0,24 persen.
Bursa Asia pagi ini bergerak variatif. Nikkei melemah 0,84 persen ke 68.780, Shanghai turun 0,64 persen ke 4.001,48, dan Strait Times melemah 0,08 persen ke 5.187,90. Sementara itu, Hang Seng menguat 1,00 persen ke 22.899,00.