Penulis Ian Bogost Ungkap “Hal-Hal Kecil” Bisa Selamatkan Kita dari Obsesi Kemudahan Teknologi

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Senin, 29 Juni 2026 | 10:02:32 WIB
Penulis Ian Bogost menyoroti pentingnya pengalaman sensorik di tengah kemudahan teknologi.

DI YOGYAKARTA — Bogost, yang juga dikenal sebagai kolumnis The Atlantic, mengembangkan gagasan ini dari artikel populernya tentang punahnya mobil bertransmisi manual. Dalam wawancara eksklusif, ia menjelaskan bahwa tanggapan besar terhadap artikel itu membuka matanya akan kerinduan publik terhadap pengalaman sensorik yang autentik.

Dematerialisasi: Biaya Tersembunyi dari Kemudahan

Konsep utama dalam buku ini adalah “dematerialisasi”—kondisi di mana manusia terputus dari dunia sensorik. Penyebab utamanya, menurut Bogost, bukan hanya teknologi dari Silicon Valley, melainkan juga birokrasi, efisiensi ekonomi, dan regulasi yang terus mengikis kontak fisik kita dengan benda sehari-hari.

“Kita telah kehilangan kontak dengan dunia yang kita huni. Teknologi kemudahan telah menghilangkan tekstur kehidupan sehari-hari,” kata Bogost kepada kami, Kamis (20/2).

Contoh Paling Nyata: Toilet Otomatis di Bandara

Bogost memberikan contoh yang paling mudah dipahami: pengalaman di toilet bandara. Toilet yang menyiram sendiri, keran yang menyala otomatis, dan dispenser handuk tanpa sentuhan—semua dirancang untuk kenyamanan. Namun, ia justru menyoroti momen ketika alat-alat itu tidak berfungsi.

“Anda baru turun dari pesawat, masuk ke toilet bandara. Toilet menyiram sendiri, keran menyala sendiri, sabun keluar sendiri—atau tidak keluar sama sekali. Hal yang dulu Anda lakukan dengan tubuh dan indra, kini Anda tidak melakukannya lagi,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa kemajuan ini memang membawa manfaat, tetapi kita tidak sadar telah membuat pengorbanan: kehilangan kontak dengan dunia material.

Mengapa Mobil Manual Jadi Simbol?

Artikel Bogost tentang mobil transmisi manual pada 2022 menjadi titik balik. Ia awalnya mengira tulisan itu hanya akan menjadi “hal kecil yang menyenangkan” di internet. Namun, responsnya luar biasa besar.

“Saya berpikir, apa benar orang-orang sangat mencintai mobil manual? Saya rasa tidak,” ujarnya. Setelah setahun merenung, ia menyadari bahwa ketertarikannya pada hal-hal biasa—pemanggang roti, smoothie, slushie—bukanlah keanehan pribadi. “Kehidupan biasa itu sangat menarik dan sangat bermakna, dan kita telah meremehkannya.”

Bosan dengan Kritik Besar, Fokus pada Kepuasan Pribadi

Meskipun buku ini bisa dibaca sebagai kritik terhadap industri teknologi, Bogost mengaku mulai bosan dengan kritik yang itu-itu saja. Ia lebih tertarik pada solusi praktis yang bisa dilakukan individu tanpa harus menunggu perubahan sistemik besar seperti mengatasi ketimpangan kekayaan atau kapitalisme.

“Terlalu berat jika kita bilang ke orang biasa, ‘Kita harus selesaikan masalah ketimpangan kekayaan dulu, baru kita bisa menikmati hidup.’ Orang biasa tidak perlu menunggu itu,” tegas Bogost.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Buku “The Small Stuff” dibagi menjadi dua bagian:

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top