DI YOGYAKARTA — Hisense sepertinya enggan memilih antara performa murni dan portabilitas pada proyektor anyarnya. Hasilnya, lahirlah Hisense XR10, sebuah perangkat yang secara fisik terlihat seperti kubus futuristik dengan lensa raksasa mencuat di bagian depan. Alih-alih memaksakan desain tipis, Hisense justru merayakan ukuran besar dengan panel aluminium hasil mesin CNC di kedua sisinya, memberikan kesan kokoh dan premium.
Sekilas, XR10 terlihat seperti perangkat lifestyle, bukan proyektor rumahan pada umumnya. Lensa di sisi kanan bukan hiasan; di dalamnya terdapat 17 elemen optik tahan panas yang diklaim Hisense mampu memproyeksikan gambar hingga 300 inci. Di sisi kiri, deretan sensor memungkinkan koreksi keystone, fokus, dan penyesuaian layar otomatis—sehingga pengguna bisa memindahkan unit kapan saja tanpa repot mengatur ulang.
Fitur paling menonjol adalah lens shift manual dengan rentang pergerakan yang sangat lebar. Hisense mengklaim fitur ini tidak menurunkan kualitas gambar, bahkan pada sudut ekstrem sekalipun. Dalam pengujian, gambar bisa digeser beberapa kaki ke segala arah tanpa distorsi berarti. Ini berarti Anda bisa meletakkan proyektor di meja samping, rak buku, atau lantai—tidak harus tepat di tengah ruangan.
Di dalam tubuh XR10 terdapat mesin laser tiga warna (triple laser) yang diklaim tahan 25.000 jam—setara dengan 17 tahun pemakaian 4 jam per hari. Mesin ini mendukung Dolby Vision, HDR10+, dan HDR10, dengan rasio kontras asli 6.000:1. Hisense menyematkan fitur IRIS manual, semacam aperture pada kamera, yang bisa menutup jalur cahaya untuk meningkatkan kontras secara signifikan. Tujuh level IRIS memungkinkan pengguna menyesuaikan antara kecerahan penuh (6.000 ANSI lumens untuk siang hari) atau kontras maksimal di ruangan gelap.
Sistem pendingin cairan loop tertutup menjaga suhu internal tetap stabil. Dibandingkan kipas konvensional, sistem ini lebih senyap saat beroperasi. Suara bising masih terdengar jika duduk tepat di samping unit, tapi biasanya tenggelam oleh audio film atau acara TV.
Saat diuji dengan layar ALR 120 inci, XR10 menghasilkan gambar yang hangat dan kaya warna. Cakupan warna mencapai 118% dari ruang warna BT2020, membuat konten HDR terlihat hidup. Meskipun perbandingan langsung dengan proyektor UST (ultra-short-throw) seperti Hisense L9Q kurang adil karena jenisnya berbeda, XR10 membuktikan bahwa proyektor portabel tidak harus kalah soal kualitas gambar. Hasilnya justru membuat reviewer sedikit kesal—karena ternyata proyektor yang bisa dibawa-bawa dalam koper ini tampil sangat baik, bahkan melebihi ekspektasi.
Bagian belakang menyediakan tiga port HDMI, dua USB Type-A, serta koneksi audio dan internet. Jumlah HDMI yang banyak mungkin terasa berlebihan untuk proyektor yang dirancang sering dipindah, tapi berguna jika Anda ingin menyambungkan beberapa perangkat sekaligus tanpa mencabut. Sentuhan desain yang menarik adalah emblem transparan di bagian atas yang menampilkan komponen internal mesin cahaya, diterangi tiga lampu RGB kecil saat proyektor menyala. Fungsinya murni estetika, tapi menambah nilai visual.
Hisense XR10 adalah proyektor yang sulit dikategorikan. Bukan proyektor portabel ukuran saku, tapi juga bukan home theater permanen yang butuh instalasi rumit. Dengan kecerahan 6.000 ANSI lumens, sistem lensa yang geser ekstrem, dan kualitas gambar triple laser yang solid, perangkat ini cocok untuk pengguna yang sering mengadakan nonton bareng di berbagai lokasi—dalam rumah atau luar ruangan. Harganya belum diumumkan untuk pasar Indonesia, tapi jika mengacu pada kelasnya, diperkirakan akan berada di kisaran premium. Untuk mereka yang menginginkan fleksibilitas tanpa mau mengorbankan kualitas gambar, XR10 layak masuk daftar pertimbangan.