DI YOGYAKARTA — Rudiger, yang lahir di Berlin setelah keluarganya diterima sebagai pengungsi oleh Jerman, menceritakan pengalaman traumatis itu dalam wawancara dengan BBC Sport Africa. Perjalanan dari Kono, distrik asal keluarganya di timur Sierra Leone, ke ibu kota Freetown sejauh 340 kilometer menjadi mimpi buruk.
"Ada satu keputusan: keluar dari sana," ujar Rudiger. Kakaknya bercerita tentang apa yang dilihat dan bagaimana mereka berjalan dari Kono ke ibu kota untuk mencari sedikit keamanan.
Sang paman mengambil tindakan ekstrem. "Dia menyembunyikan mereka di dalam karung beras, lalu kembali untuk mengambil mereka dan melanjutkan perjalanan," kata Rudiger. "Kadang mereka harus bersembunyi, pura-pura mati agar tidak ditembak atau diculik."
Rudiger, yang kini berusia 33 tahun, tumbuh besar di pusat pengungsi Jerman. "Kami punya kamar sendiri, keluarga sebelah punya kamar mereka, kami semua bersama," kenangnya. Pengalaman itu membentuk karakternya: "Tidak ada yang diberikan dalam hidup. Kamu harus bekerja keras, berkorban banyak untuk mencapai tujuan."
Bek Real Madrid itu menjadi salah satu pemain yang mendukung kampanye UNHCR (Badan Pengungsi PBB) untuk mengubah narasi global tentang pengungsi. "Saatnya menyuarakan dukungan," tegasnya.
Rudiger tidak sendirian. Kapten tuan rumah Kanada, Alphonso Davies, menghabiskan masa kecilnya di kamp pengungsi Ghana setelah orang tuanya melarikan diri dari Liberia. Bek Bayern Munchen itu mengaku Kanada memberinya kesempatan: "Mereka menyambut kami dengan tangan terbuka."
Pemain lain yang mendukung kampanye UNHCR antara lain rekan setim Rudiger di Real Madrid, Eduardo Camavinga (orang tua dari Angola), penyerang Nigeria Victor Moses (orang tua menetap di Inggris), dan kiper Bosnia Asmir Begovic yang seperti Rudiger diterima Jerman setelah melarikan diri dari perang Balkan.
Rudiger prihatin dengan perubahan persepsi terhadap pengungsi. "Narasi lebih banyak menyalahkan pengungsi," katanya. "Jika satu orang berbuat buruk, apakah semua buruk? Kamu tidak bisa menstigma semua orang."
PBB memperkirakan ada 48,8 juta anak terlantar di seluruh dunia akibat perang, kekerasan, dan penganiayaan. "Anak-anak dan remaja adalah yang paling rentan," kata Barham Salih, komisioner tinggi PBB untuk pengungsi.
Di Australia, tiga penyerang tim nasional—Nestory Irankunda, Mohamed Toure, dan Awer Mabil—lahir atau besar di kamp pengungsi Afrika. Asosiasi pesepakbola profesional Australia bahkan membuat video yang menampilkan latar belakang setiap pemain untuk menunjukkan manfaat imigrasi.