DI YOGYAKARTA — Pelemahan rupiah hari ini tidak berdiri sendiri. Mayoritas mata uang Asia kompak tertekan oleh penguatan dolar AS. Rupee India melemah 0,04%, yuan China turun 0,01%, dan won Korea Selatan ambles 0,74%. Yen Jepang dan dolar Singapura masing-masing melemah 0,08% dan 0,09%.
Bagi masyarakat, rupiah yang terus tergerus berarti harga barang impor seperti elektronik, obat-obatan, dan bahan pangan tertentu akan naik. Bagi pelaku bisnis, terutama yang menggantungkan bahan baku impor, biaya produksi membengkak. Sektor manufaktur dan ritel menjadi yang paling terpukul karena margin keuntungan tergerus.
Tekanan juga terasa pada utang perusahaan yang denominasinya dalam dolar. Beban pembayaran bunga dan pokok utang membesar, berpotensi mengganggu arus kas. Investor asing pun cenderung wait and see, menahan diri untuk masuk ke pasar saham dan obligasi domestik.
Analis Doo Financial Lukman Leong menyebut ada dua faktor utama. Pertama, meredanya kekhawatiran perang setelah Presiden AS Donald Trump menunda serangan ke Iran—ini malah memperkuat dolar sebagai aset safe haven. Kedua, kondisi fundamental domestik yang masih lemah membuat pelaku pasar belum percaya diri.
“Pelaku pasar tetap mencermati kondisi domestik yang dinilai masih lemah,” ujar Lukman. Ia menambahkan, investor saat ini menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan.
Ekspektasi kenaikan BI rate membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Bank sentral biasanya menaikkan suku bunga untuk menarik modal asing masuk dan menahan pelemahan rupiah. Namun, kebijakan ini ibarat pisau bermata dua: suku bunga tinggi bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi karena biaya pinjaman korporasi dan kredit konsumsi ikut naik.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS sepanjang hari ini. Potensi penguatan ada, namun sangat terbatas selama sentimen eksternal masih dominan.
Sepanjang tahun ini, depresiasi rupiah mencapai 6,25%. Jika dihitung dari posisi awal tahun di kisaran Rp 16.650 per dolar AS, setiap Rp 1.000 pelemahan berarti beban tambahan miliaran rupiah bagi perusahaan dengan utang dolar. Bagi importir, setiap kontainer barang kini lebih mahal setara selisih kurs yang terus melebar.
Penguatan baru mungkin terjadi jika ada kepastian dari hasil RDG BI atau sentimen positif dari data ekonomi AS yang melemah. Namun, tanpa intervensi agresif bank sentral atau perbaikan fundamental domestik, tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek.
Investasi mengandung risiko. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan RDG BI dan data tenaga kerja AS pekan ini sebagai katalis potensial.