DI YOGYAKARTA — Pergerakan rupiah di pasar valuta asing menunjukkan penurunan yang signifikan, dimulai dari level Rp17.489 per dolar AS dan berlanjut ke nilai terendah Rp17.503. Pelemahan ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga tertekan oleh penguatan dolar AS.
Sejumlah mata uang Asia lainnya juga mengalami pelemahan, antara lain:
Di sisi lain, dolar Hong Kong justru menguat 0,01 persen terhadap dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang meredup telah berkontribusi pada potensi pelemahan rupiah lebih lanjut. Selain itu, harga minyak mentah dunia yang tetap tinggi turut menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sentimen negatif juga datang dari pengumuman MSCI yang diperkirakan tidak akan memberikan dampak positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Lukman mengungkapkan, "Pengumuman MSCI hari ini diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG, dan akan ikut menekan rupiah." Investor pun menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini, yang dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang kondisi ekonomi domestik.
Dalam analisisnya, Lukman memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS untuk perdagangan hari ini. Investor diharapkan untuk tetap waspada terhadap perkembangan pasar global yang dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah.