Frugal Living Jadi Tren di Yogyakarta, Gaya Hidup Hemat Kini Dianggap Keren

Penulis: Edi Wahyono  •  Minggu, 10 Mei 2026 | 13:39:01 WIB
Generasi muda Yogyakarta semakin mengadopsi gaya hidup hemat sebagai tren sosial baru.

YOGYAKARTA — Tren gaya hidup hemat atau frugal living kini semakin diterima secara luas oleh generasi muda di berbagai kota besar, termasuk di wilayah urban Yogyakarta. Praktik ini tidak lagi dipandang sebagai tanda kesulitan ekonomi, melainkan bentuk kesadaran dalam mengatur konsumsi secara lebih bijak dan terencana.

Antropolog Indonesia, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, menjelaskan bahwa fenomena ini telah berkembang menjadi nilai sosial baru. Anak muda saat ini cenderung mengedepankan fungsi dan kegunaan barang dibandingkan sekadar mengikuti arus kemewahan yang kerap muncul di media sosial.

“Sekarang hemat itu adalah pilihan sadar, karena kita memang mau hemat saja, enggak mau boros,” kata Semiarto kepada ANTARA, Jumat (9/5/2026).

Geser Budaya Pamer, Penampilan Minimalis Kini Dianggap Lebih Berkelas

Pergeseran nilai ini juga berdampak pada cara generasi muda membangun citra diri di ruang publik. Jika sebelumnya kemewahan menjadi tolok ukur kesuksesan, kini konsep sederhana, bersih, dan minimalis justru dianggap memiliki daya tarik tersendiri dan lebih keren.

Semiarto menilai frugal living telah menjadi bagian dari self-presentation atau cara seseorang menunjukkan identitas sosialnya. Ada perubahan orientasi dari budaya pamer status menuju gaya hidup yang lebih sadar serta disiplin dalam mengelola sumber daya pribadi.

“Sekarang bicara penampilan itu yang clean, yang bersih, simple, itu keren. Frugal living bukan sekadar hemat atau pelit, tapi itu adalah cara kita menampilkan diri di publik,” ujarnya.

Rasionalitas Konsumsi: Mengeluarkan Uang untuk Nilai yang Wajar

Munculnya etika baru yang menolak perilaku konsumsi berlebihan (over consumption) membuat anak muda bertindak lebih rasional. Setiap pengeluaran kini ditimbang berdasarkan manfaat nyata yang didapatkan, bukan sekadar pemuasan keinginan sesaat.

Prinsip utama yang dipegang adalah keseimbangan antara apa yang dikeluarkan dengan apa yang didapat. Masyarakat urban mulai membatasi diri untuk tidak membeli barang mahal jika fungsinya tidak sebanding dengan harga yang ditawarkan.

“Apa yang dikeluarkan dan apa yang didapat. Mengeluarkan dengan harga yang masuk akal, yang wajar, dan mendapatkan sesuai dengan apa yang diharapkan. Jangan boros-boros, jangan over consumption, enggak perlu lagi beli yang mahal-mahal atau yang berlebih, cukup saja,” katanya.

Apa Itu Reframing dalam Tren Gaya Hidup Hemat Generasi Muda?

Dalam perspektif antropologi, fenomena ini disebut sebagai reframing atau pengingkaian ulang nilai-nilai konsumsi di masyarakat modern. Nilai hemat yang dulunya identik dengan kemiskinan kini dibungkus ulang sebagai bentuk kendali diri yang positif.

“Dalam bahasa antropologi itu kita sebut sebagai reframing, mengerangkai ulang nilai konsumsi dari sekadar pamer status menjadi disiplin diri,” kata Semiarto menjelaskan perubahan paradigma tersebut.

Disiplin diri dalam berbelanja ini diprediksi akan terus menguat seiring dengan meningkatnya literasi keuangan dan kesadaran akan keberlanjutan lingkungan di kalangan anak muda Indonesia.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: radiostar.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top