Pencarian

Monyet Ekor Panjang Rusak Lahan Pertanian di 80 Kalurahan Gunungkidul, Pemkab Siapkan Tiga Strategi Penanganan

Kamis, 30 Juli 2026 • 11:56:31 WIB
Monyet Ekor Panjang Rusak Lahan Pertanian di 80 Kalurahan Gunungkidul, Pemkab Siapkan Tiga Strategi Penanganan
Populasi monyet ekor panjang di Gunungkidul mencapai 1.000 ekor dan tersebar di hampir 80 kalurahan.

GUNUNGKIDUL — Populasi monyet ekor panjang (MEP) di Kabupaten Gunungkidul diperkirakan mencapai 1.000 ekor dan tersebar di hampir 80 kalurahan. Hewan yang dilindungi ini kerap merusak lahan pertanian warga, terutama di wilayah selatan Gunungkidul.

Penyebab Monyet Masuk ke Lahan Warga

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan, luas kawasan hutan di wilayahnya mencapai 88,56 persen dari total kawasan hutan di DIY. Namun mayoritas vegetasi berupa pohon jati yang tidak menyediakan sumber pangan alami bagi primata.

"Mayoritas lahan tersebut merupakan hutan jati yang tidak menyediakan sumber pangan alami bagi primata," kata Endah, Rabu.

Akibatnya, MEP kekurangan pakan alami dan masuk ke lahan pertanian warga. Bupati menambahkan, monyet-monyet ini memiliki kemampuan adaptasi tinggi — tidak lagi takut terhadap suara petasan atau senjata mainan, bahkan mampu mengenali jadwal pemberian bantuan pakan.

Tiga Tahap Strategi Penanganan

Pemkab Gunungkidul menyusun strategi penanganan dalam tiga tahapan. Jangka pendek, pemberian pakan di titik-titik tertentu. Jangka menengah, membangun kawasan sumber pangan permanen dengan menanam pohon buah hutan. Jangka panjang, restorasi ekosistem inti dan rehabilitasi lahan secara menyeluruh.

"Jangka menengah dengan pembentukan satuan pangan permanen dengan menanam pohon buah hutan. Jangka panjangnya merestorasi ekosistem inti dan rehabilitasi lahan agar mengembalikan monyet ke habitat aslinya," ujar Endah.

Pemberian Pakan Manual Belum Efektif Sepenuhnya

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul Edy Basuki mengungkapkan, upaya pengendalian MEP melalui pemberian pakan tambahan secara manual telah dilakukan sejak tahun lalu. Namun berdasarkan hasil kajian, metode tersebut dinilai belum sepenuhnya efektif.

"Kalau menurut kajian memang kurang efektif, tapi paling tidak pada waktu itu di wilayah tersebut tingkat kerusakan lahannya agak berkurang," katanya.

Edy menjelaskan, MEP paling banyak merusak tanaman jagung, kacang-kacangan, dan ketela yang umumnya berada di kawasan selatan Gunungkidul.

UGM Diminta Susun Strategi Penanaman Pohon Buah

Pemkab Gunungkidul kini bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menyusun strategi penanganan yang lebih tepat sasaran. Salah satu rekomendasi dari Fakultas Kehutanan UGM adalah penanaman pohon yang buahnya bisa dimakan MEP di sekitar habitat mereka.

"Kemarin dari Kehutanan UGM juga menyampaikan penanaman pohon yang buahnya bisa dimakan oleh MEP itu, sehingga MEP tidak merusak tanaman warga," ujar Edy.

Bupati Endah menambahkan, pemberian bantuan makanan bukan solusi instan dan membutuhkan perhitungan anggaran yang detail. Sebab, MEP merupakan satwa yang dilindungi sehingga penanganannya harus dilakukan dengan pendekatan terukur dan berkelanjutan.

Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks