GUNUNGKIDUL — Mata air Kali Wonosari di Padukuhan Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, menjadi satu-satunya sumber air bersih yang masih bertahan bagi warga setempat saat musim kemarau. Puluhan galon air diangkut warga setiap hari dari lokasi yang berada di aliran sungai tersebut.
Debit air yang stabil membuat mata air ini tidak pernah kering meski wilayah lain di Gunungkidul mulai kesulitan air. Warga datang sejak pagi hari untuk mengantre, membawa galon kosong dengan gerobak dorong atau kendaraan roda dua.
Wilayah Duwet dan sekitarnya termasuk daerah rawan air saat kemarau karena kondisi geografis perbukitan kapur. Sumur-sumur warga mulai surut, sementara suplai air bersih dari pemerintah belum menjangkau semua permukiman secara merata.
Mata air Kali Wonosari menjadi penopang utama. Airnya jernih dan tidak berbau, sehingga layak dikonsumsi langsung setelah ditampung. Warga biasanya menggunakan air ini untuk minum, memasak, dan mandi.
Pemandangan warga membawa galon kosong menuju mata air Kali Wonosari terekam pada Selasa (28/7/2026). Mereka rela menempuh jarak beberapa kilometer dari rumah demi mendapatkan air bersih.
Seorang warga setempat mengatakan bahwa antrean bisa mencapai puluhan orang pada jam sibuk. "Kami biasa datang pagi-pagi, kalau siang antreannya panjang," ujarnya tanpa menyebut nama.
Musim kemarau tahun ini dilaporkan lebih kering dibanding tahun sebelumnya. Sejumlah kapanewon di Gunungkidul seperti Tepus, Girisubo, dan Rongkop kerap menjadi zona prioritas pengiriman air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Mata air Kali Wonosari menjadi penyelamat bagi warga Duwet yang lokasinya cukup jauh dari jalur distribusi air bersih. Warga berharap musim hujan segera tiba agar beban mengambil air setiap hari bisa berkurang.