GUNUNGKIDUL — Setiap pukul 05.00 WIB, Wiwin (30) sudah bersiap menggendong galon bekas air mineral menggunakan jarik. Ia menuruni tebing menuju kolam kecil di sela bebatuan, tempat air mengalir perlahan melalui bambu yang dibelah. Dalam sehari, ia bolak-balik empat hingga lima kali dari rumahnya yang berjarak dua kilometer. "Sudah dari dulu, sejak zaman nenek moyang, warga di sini ngangsu banyu karena setiap musim kemarau air pasti susah," ujarnya.
Wiwin mulai ngangsu banyu sejak Mei, saat sumur di sekitar tempat tinggalnya mulai kering. Air yang dibawa digunakan untuk memasak dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Ia memodifikasi sepeda motor untuk mengangkut jeriken, sementara galon digendong dengan kain batik panjang—jarik—seperti lazim di pedesaan Gunungkidul. "Hampir setiap hari saya membawa jeriken dan galon bekas air mineral, naik turun ke sini untuk memenuhi kebutuhan air di rumah," katanya.
Mata air yang dikenal dengan sebutan thuk Kali Wonosari ini terletak di kawasan perbukitan Dusun Duwet. Area kolamnya cukup luas, tetapi saat kemarau debit air menyusut drastis hingga nyaris mengering. Airnya tampak keruh, jauh dari bening seperti air minum kemasan. Meski begitu, warga tetap antre mengisi jeriken dan galon. Di sudut kolam terdapat dua bilik mandi sederhana tanpa atap dan tanpa cat, hanya dipisahkan tembok setinggi dua meter. Untuk mandi, warga menimba air dengan ember bertali.
Setiap musim kemarau, tempat ini tak pernah sepi. Warga datang sejak pagi, ada yang menggendong galon, ada yang membawa gerobak, atau memodifikasi motor untuk mengangkut lebih banyak air. Pemandangan ini sudah berlangsung puluhan tahun. Wiwin dan tetangganya menganggap mata air itu sebagai oase di tengah kekeringan. "Hampir setiap hari saya ke sini," katanya.
Pohon ketos, laban, dan munggur yang rindang mengelilingi kolam memberikan sedikit perlindungan dari terik matahari. Air yang keluar dari celah bebatuan melalui bambu saluran sederhana menjadi satu-satunya harapan warga saat musim kemarau tiba.