BANTUL — Dampak musim kemarau 2026 mulai dirasakan pembudidaya ikan air tawar di Bantul. Dalam sepekan terakhir, dilaporkan sekitar 150 ekor ikan gurame mati dalam waktu singkat di kolam budidaya wilayah Tamantirto, Kapanewon Kasihan.
Kematian ikan itu dipicu oleh menurunnya kualitas air akibat suhu ekstrem. Namun, tidak semua jenis ikan mengalami nasib serupa. Tri Sunaryadi, pembudidaya ikan nila di Tamantirto, menyebut bahwa ikan nila dan bawal memiliki daya tahan lebih tinggi terhadap perubahan kualitas air di musim kemarau.
Tri mengaku tetap tenang karena jenis ikan yang dibudidayakan — nila dan bawal — relatif aman selama tidak ada pencemaran limbah besar. “Kalau nila dan bawal relatif aman, kecuali ada pencemaran limbah yang cukup besar. Yang perlu diwaspadai justru saat awal hujan setelah kemarau, karena kotoran dari berbagai sumber ikut terbawa ke kolam,” ujar Tri, Senin (6/7/2026).
Kelompok Mino Jolontoro yang diikuti Tri saat ini mengelola sekitar 20 kolam. Setiap kolam berukuran 4 x 7,5 meter diisi sekitar 1.500 ekor ikan nila dan 200 ekor ikan bawal.
Tri mengakui tantangan terbesar bukan suhu, melainkan kualitas air baku yang berasal dari sungai dan irigasi. “Sekarang banyak aktivitas seperti warung, laundry, hingga rumah tangga yang membuang limbah ke sungai. Itu yang paling berpengaruh ke kualitas air,” jelasnya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, para pembudidaya tidak menerapkan perlakuan khusus. Mereka tetap mengandalkan pola pemberian pakan rutin pada siang dan sore hari, menggunakan kombinasi pelet dan sisa makanan. Namun ada catatan penting: jika aliran air kolam tidak lancar, pemberian pakan dihentikan sementara.
“Kalau air tidak mengalir, sebaiknya tidak diberi makan karena ikan bisa stres bahkan muntah,” tambah Tri.
Sementara itu, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul mengingatkan para pembudidaya untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak kemarau. Petugas Kesehatan Ikan DKP Bantul, Tri Rahmayanti, menjelaskan fluktuasi suhu antara siang dan malam hari dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air.
“Kondisi ini bisa memicu stres pada ikan dan berpotensi menyebabkan kematian massal jika tidak diantisipasi,” ujarnya.
DKP Bantul mengimbau pembudidaya lebih memperhatikan sirkulasi air, kualitas lingkungan kolam, serta pola pemberian pakan yang disesuaikan dengan kondisi air. Dengan pengelolaan yang tepat, risiko kerugian akibat kematian ikan di musim kemarau diharapkan dapat ditekan, sekaligus menjaga produktivitas budidaya ikan air tawar di Bantul tetap stabil.