DI YOGYAKARTA — Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani menyatakan Indonesia membutuhkan investasi lebih dari Rp13.000 triliun dalam lima tahun ke depan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029. Target itu berasal dari Bappenas dan menjadi acuan kerja kementeriannya. Realisasi investasi tahunan disebut terus naik, dari sekitar Rp1.714 triliun pada 2024 menjadi Rp1.931 triliun pada 2025.
Rosan menyampaikan hal itu di Jakarta, dan dikutip Kamis (8/10/2026). Menurut dia, angka Rp13.000 triliun bukan target yang berdiri sendiri, melainkan konsekuensi dari ambisi pertumbuhan yang sudah ditetapkan secara resmi.
"Lima tahun ke depan, target investasi dalam rangka kita memenuhi pertumbuhan 8 persen itu adalah Rp13.000 triliun lebih," kata Rosan.
Kontribusi Investasi ke Ekonomi Naik ke 38-39 Persen
Rosan membandingkan posisi investasi dalam struktur ekonomi Indonesia sekarang dengan periode sebelumnya. Pada tahun-tahun sebelumnya, kontribusi investasi rata-rata berada di kisaran 28 hingga 29 persen.
"Untuk saat ini kontribusi dari investasi sudah mendekati 38 sampai 39 persen, jika dilihat selama 10 tahun terakhir investasi kurang lebih nilainya Rp9.100 triliun," ujarnya.
Artinya, dalam satu dekade terakhir total investasi yang masuk ke Indonesia mencapai sekitar Rp9.100 triliun. Angka itu menjadi basis perhitungan untuk menakar apakah target Rp13.000 triliun dalam lima tahun ke depan realistis atau tidak.
Realisasi 2024-2025 dan Target 2029
Rosan merinci realisasi investasi dua tahun terakhir. Pada 2024, nilai investasi yang masuk sekitar Rp1.714 triliun. Setahun kemudian, angkanya naik menjadi Rp1.931 triliun.
Kenaikan itu menunjukkan tren positif, meski untuk mencapai Rp13.000 triliun dalam lima tahun, laju pertumbuhan investasi tahunan perlu melonjak jauh lebih besar dari pola yang terlihat saat ini.
Rosan menyebut target tersebut berasal dari Bappenas. "Itu adalah target yang diberikan oleh Bappenas kepada kami dalam rangka kita bisa mencapai pertumbuhan 8 persen di tahun 2029," ujarnya.
Investasi Diminta Ciptakan Lapangan Kerja
Bagi Rosan, besarnya dana yang masuk bukan satu-satunya ukuran. Kualitas investasi dinilai sama pentingnya, terutama kemampuannya menyerap tenaga kerja.
"Yang paling penting tentunya adalah bagaimana dana yang masuk itu bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Kurang lebih lapangan pekerjaan yang tercipta pada tahun lalu 2,4 juta orang. Dan kalau kita lihat lagi, tentunya investasi yang kita masukan adalah investasi yang berkualitas," katanya.
Dengan kata lain, pemerintah tidak hanya mengejar nominal, tetapi juga dampak riil ke pasar kerja. Angka 2,4 juta lapangan kerja yang tercipta pada tahun lalu menjadi pembanding untuk menilai apakah tambahan investasi di periode berikutnya benar-benar berdampak ke masyarakat luas.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha dan Investor
Target Rp13.000 triliun membuka ruang bagi sektor hilirisasi dan industri padat modal untuk menyerap arus investasi yang lebih besar. Pemerintah lewat Kementerian Investasi dan Hilirisasi memegang mandat merealisasikan angka tersebut hingga 2029.
Bagi investor, sinyal yang dikirim cukup jelas: kebutuhan pendanaan besar, dengan penekanan pada investasi yang menciptakan lapangan kerja. Arah kebijakan ini akan menentukan sektor mana yang paling diuntungkan dalam lima tahun mendatang.