DI YOGYAKARTA — Kecelakaan terjadi pada 20 Juni lalu, ketika sebuah Tesla Model 3 melaju kencang di Rose Hollow Lane sebelum menabrak trotoar dan menembus fasad bata dua lantai sebuah rumah. Rekaman kamera pengawas yang diperoleh media setempat menunjukkan mobil tersebut melaju dengan kecepatan diperkirakan 60 hingga 70 mil per jam (96–112 km/jam) di jalan pemukiman.
Korban dan Pengemudi Teridentifikasi
Korban tewas diidentifikasi sebagai Martha Avila Mantilla, 76 tahun. Ia sedang berdiri di ruang depan rumah keluarganya saat mobil menembus dinding. Keluarga menggambarkannya dalam kondisi kesehatan prima dan tidak mengonsumsi obat-obatan rutin. Ia tinggal bersama keluarga putrinya sejak kelahiran cucu pertama.
Rumah tersebut dinyatakan tidak layak huni. Keluarga yang terdiri dari dua orang tua, tiga anak kecil, dan korban kini tinggal di tempat sementara. Sebuah penggalangan dana GoFundMe telah dibuka untuk membantu mereka.
Pengemudi mobil, Michael Butler (44), mengatakan kepada petugas bahwa sistem Autopilot aktif saat kecelakaan. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda mabuk dan terus bekerja sama dengan penyidik. Hingga akhir pekan lalu, belum ada tuntutan hukum yang diajukan terhadapnya.
Data Black Box Jadi Kunci Investigasi
NHTSA mengonfirmasi pada Senin (22/6) bahwa mereka telah membuka penyelidikan sendiri, mengambil alih dari penyelidikan awal Kantor Sheriff Harris County. Investigator akan mengunduh event data recorder (EDR) dan catatan sistem onboard untuk memverifikasi klaim Butler.
Mereka akan mencari tahu apakah sistem bantuan pengemudi benar-benar aktif, seberapa cepat mobil melaju, dan input apa yang dilakukan pengemudi dalam detik-detik sebelum tabrakan. Rekaman video menunjukkan Model 3 itu melesat sebelum gagal berbelok dan menabrak rumah.
Jennifer Barbour, putri korban, menulis dalam unggahan video, "Ini mobil yang terbang ke rumah saya. Ibu saya tidak pantas mengalami ini."
Tekanan Regulasi pada Sistem FSD Tesla
Investigasi ini tidak terjadi di ruang hampa. Pada Maret lalu, NHTSA meningkatkan penyelidikan terhadap sistem "Full Self-Driving" (FSD) Tesla ke tahap Engineering Analysis—langkah terakhir sebelum regulator dapat memerintahkan recall. Analisis itu mencakup sekitar 3,2 juta kendaraan, termasuk Model 3 tahun produksi 2017–2026 yang terlibat dalam kecelakaan Katy.
Secara terpisah, NHTSA masih mengevaluasi 2,88 juta Tesla lainnya karena sistem FSD diduga melanggar lalu lintas seperti menerobos lampu merah dan masuk jalur lawan. Tesla juga tengah diawasi karena gagal melaporkan kecelakaan yang melibatkan Autopilot dan FSD secara benar.
Perlu dicatat, Tesla menghentikan penggunaan nama "Autopilot" untuk kendaraan baru pada Januari 2026 setelah putusan pengadilan California memaksanya menghentikan pemasaran yang menyesatkan. Namun, jutaan mobil lama masih membawa perangkat lunak tersebut. Baik Autopilot maupun FSD adalah sistem Level 2 yang mengharuskan pengemudi tetap waspada setiap saat—keduanya tidak membuat Tesla menjadi otonom.
Pertanyaan yang Belum Terjawab
Komentar dari pembaca di Electrek menyoroti keanehan kasus ini: apa yang dilakukan pengemudi hingga tidak menyadari mobilnya melaju kencang sebelum menabrak? Banyak yang menduga ini adalah pedal error—pengemudi salah menginjak pedal gas alih-alih rem.
Namun, sistem ADAS Tesla tetap bisa terlibat. Sistem mungkin saja gagal dan pengemudi justru menekan pedal yang salah saat mencoba mengoreksi. Kecelakaan ini kembali menimbulkan pertanyaan tentang pemasaran Tesla yang terlalu percaya diri, yang mendorong pengemudi menjadi lengah. Dengan penyelidikan federal yang sudah berjalan, data dari black box kemungkinan akan menjadi publik dan memberi jawaban pasti.