DI YOGYAKARTA — Snap Inc. resmi memperkenalkan Spectacles generasi terbaru — yang mereka sebut sebagai "see-through computer" — di konferensi AWE pekan ini. CEO Snap Evan Spiegel duduk bersama tim Engadget setelah keynote untuk menjelaskan posisi produk yang menurutnya sering disalahartikan.
Bukan AI Glasses Biasa, tapi "Computer for Your Face"
Spiegel dengan tegas menolak label "AI glasses" untuk Spectacles terbaru ini. Menurutnya, kacamata AI yang beredar saat ini dirancang untuk merekam konten — bukan itu tujuan Spectacles.
"Saya pikir orang akan lebih nyaman dengan Spectacles begitu mereka paham penggunanya lebih mungkin sedang menggunakan komputer, bukan diam-diam merekam video," ujar Spiegel dalam wawancara eksklusif dengan Engadget.
CEO Snap itu berulang kali menyebut Spectacles sebagai "komputer" — sebuah perangkat yang bisa menimpa komputasi ke dunia nyata di sekitar pengguna. "Ini penting jika Anda ingin membuat komputasi terasa lebih manusiawi," tambahnya.
Desain Lebih Ramping, Tapi Lengan Masih Tebal
Dari segi fisik, Spectacles edisi 2025 ini tampil lebih refined dibanding versi developer tahun lalu. Dari depan, bingkainya terlihat lebih sempit dan bundar — kontras dengan desain kotak dan kaku dari generasi sebelumnya.
Namun lengan kacamata masih cukup tebal dan menjorok sedikit ke belakang kepala pengguna. Saat Spiegel memakainya, mata masih terlihat jelas dari depan, meski ada pantulan seperti pelangi dari waveguide saat ia menoleh.
Fitur peredupan (dimming) juga tersedia — saat diaktifkan, lensa menjadi hitam pekat seperti kacamata hitam. Sayangnya Snap belum membuka sesi demo untuk jurnalis, sehingga kesan pertama masih terbatas pada observasi visual.
Privasi Jadi Perhatian Utama — Termasuk Larangan Facial Recognition
Spectacles hadir di tengah meningkatnya kecurigaan publik terhadap kacamata pintar. Beberapa kasus penyalahgunaan teknologi ini — termasuk insiden Meta yang ketahuan menguji facial recognition di Ray-Ban Stories tanpa izin — membuat privasi menjadi isu kritis.
Spiegel menegaskan Snap tidak mengizinkan facial recognition di Lenses buatan pengembang. "Kami punya ekosistem developer sendiri dan alat pengembangan sendiri, jadi kami bisa memoderasi Lenses yang diajukan untuk memastikan sesuai pedoman," jelasnya.
Snap juga membangun fitur parental control di aplikasi pendamping Spectacles. Orang tua bisa menggeser toggle untuk membatasi jenis Lenses yang bisa diakses anak remaja saat menggunakan kacamata ini. "Mereka tetap bisa bersenang-senang dan bermain, tapi orang tua tenang karena bisa mengawasi," kata Spiegel.
Harga Selangit, Tapi Targetnya Developer Dulu
Dengan banderol USD 2.195 (sekitar Rp 36,2 juta), Spectacles menjadi kacamata pintar termahal di pasaran saat ini — bahkan mengalahkan sebagian besar headset AR/VR kecuali Apple Vision Pro. Spiegel sendiri membandingkan langsung produknya dengan Vision Pro saat keynote.
"Kami ingin Spectacles bisa diakses seluas mungkin dalam jangka panjang," ujarnya. "Tapi sebagai komputer baru yang sangat kuat, kami mencoba mematok harga yang masih terjangkau oleh early adopter, developer, dan mereka yang benar-benar passionate dengan teknologi ini."
Kompetisi Makin Ketat, Tapi Snap Yakin Beda Kelas
Lanskap kacamata pintar 2025 jauh berbeda dibanding 2016 saat Snap pertama kali bereksperimen dengan kamera di kacamata. Meta dengan Ray-Ban Stories-nya, Apple dengan Vision Pro, dan berbagai pemain lain sudah masuk. Tapi Spiegel yakin Spectacles punya cerita berbeda.
"Kami tidak menjual alat perekam video di wajah Anda," tegasnya. "Kami menjual komputer yang membuat komputasi terasa lebih alami dan menyatu dengan dunia."
Spectacles akan mulai dijual akhir tahun ini. Belum ada informasi ketersediaan untuk pasar Indonesia. Untuk saat ini, produk ini jelas bukan untuk semua orang — melainkan untuk mereka yang bersedia membayar mahal demi masa depan komputasi wearable.