Pencarian

Lima Jemaah Haji Yogyakarta Gagal Berangkat Akibat Pemeriksaan Kesehatan Ketat

Sabtu, 02 Mei 2026 • 16:39:00 WIB
Lima Jemaah Haji Yogyakarta Gagal Berangkat Akibat Pemeriksaan Kesehatan Ketat
Lima jemaah haji Yogyakarta gagal berangkat akibat pemeriksaan kesehatan ketat di embarkasi Kulon Progo.

Kulon Progo — Pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji di embarkasi berbasis hotel di Hotel Novotel YIA Kabupaten Kulon Progo semakin diperketat sejalan dengan kebijakan pemerintah Arab Saudi yang semakin selektif dalam menerima jemaah. Dampaknya, sejumlah calon jemaah dari Yogyakarta harus menunda keberangkatan karena dinyatakan tidak memenuhi syarat kesehatan.

Pemeriksaan Berlapis hingga Tahap Akhir Keberangkatan

Pelaksana Tugas Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah DIY, Silvia Rosetti, menjelaskan bahwa mekanisme skrining kesehatan telah dirancang berjenjang sejak awal pendaftaran. "Pemeriksaan sudah dilakukan sejak awal dan berjenjang. Saat tiba di tahap akhir, jemaah yang masuk adalah mereka yang secara umum dinyatakan siap," ujar Silvia pada Sabtu (2 Mei 2026).

Kendati demikian, jika pada pemeriksaan kondisi terakhir ditemukan gangguan kesehatan, jemaah tetap tidak diperkenankan untuk berangkat menuju Tanah Suci. Mekanisme ini berlaku ketat tanpa ada pengecualian, mengingat perjalanan haji membutuhkan stamina dan kondisi fisik yang prima untuk menjalani rangkaian ibadah yang panjang.

Penyakit Jantung Dominasi Alasan Penolakan

Hingga pemberangkatan kloter kedelapan, tercatat lima jemaah haji asal Yogyakarta harus menunda keberangkatan mereka. Mayoritas kasus disebabkan oleh kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk menjalani perjalanan jauh maupun menyelesaikan seluruh rangkaian ritual ibadah haji.

Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi YIA Kulon Progo, Jauhar Mustofa, mengungkapkan bahwa penyakit jantung menjadi penyebab paling dominan dalam penolakan keberangkatan, disusul gangguan pernapasan serta faktor usia lanjut. Selain itu, kasus gangguan kognitif juga menjadi fokus perhatian dalam proses skrining kesehatan.

Respons terhadap Angka Kematian Jemaah Tertinggi

Pengetatan pemeriksaan kesehatan ini merupakan hasil evaluasi mendalam dari penyelenggaraan haji sebelumnya. Evaluasi tersebut dilatarbelakangi oleh tingginya angka jemaah yang meninggal dunia pada musim haji tahun lalu, mencapai 447 orang. Angka ini merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan negara-negara lain yang mengirimkan jemaah ke Arab Saudi.

Jauhar Mustofa menegaskan bahwa tidak ada intervensi dalam proses penentuan kelayakan jemaah. "Kami di embarkasi menyerahkan sepenuhnya kepada tim kesehatan dan Dinas Kesehatan untuk menjalankan SOP pemeriksaan. Karena itu, ada beberapa jemaah yang akhirnya tidak bisa berangkat," katanya.

Arab Saudi Perkuat Standar Istithaah (Kemampuan) Jemaah

Pemerintah Arab Saudi telah memberikan perhatian serius untuk mencegah terulangnya kasus kematian dan penyakit massal yang dialami jemaah pada tahun sebelumnya. Banyak jemaah haji sakit berat hingga memenuhi rumah sakit di Arab Saudi, menambah beban sistem kesehatan setempat.

Oleh karena itu, aspek istithaah atau kemampuan fisik dan kesehatan setiap jemaah haji diperketat melalui berbagai standar seleksi. Kebijakan ini tidak hanya berlaku untuk jemaah Indonesia, melainkan menjadi standar bagi semua negara pengirim jemaah haji.

Bagikan
Sumber: yogyakarta.kompas.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks