Pencarian

Pertegas Jati Diri, Pemkot Yogyakarta Bidik Predikat Kota Terinovatif dan "The Little Singapore" pada 2026

Senin, 09 Februari 2026 • 19:50:06 WIB
Pertegas Jati Diri, Pemkot Yogyakarta Bidik Predikat Kota Terinovatif dan
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan penguatan identitas kota melalui pendidikan, budaya, dan pariwisata.

UMBULHARJO – Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk tidak merombak identitas kota yang sudah mengakar kuat. Alih-alih mencari branding baru, Pemkot memilih untuk memperkuat tiga pilar utama yang telah terbentuk secara alami: sebagai kota pendidikan, kota budaya, dan kota pariwisata yang sehat serta nyaman.

Hal tersebut ditegaskan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Pembangunan di Balai Kota Yogyakarta, Senin (9/2/2026).

Mewujudkan "The Little Singapore" Berbasis Budaya

Wali Kota Hasto Wardoyo memaparkan visi besar pembangunan Yogyakarta sebagai "The Little Singapore". Namun, ia menggarisbawahi bahwa adopsi ini bukan merujuk pada industrialisasinya, melainkan pada nilai-nilai fundamentalnya.

"Yang kita adopsi adalah nilai kedisiplinan, ketertiban, kejujuran, serta rasa aman dan nyaman. Namun, identitas sebagai kota budaya dan kota pendidikan tetap menjadi jati diri yang tidak boleh ditinggalkan," jelas Hasto.

Implementasi visi ini disinergikan dengan filosofi Hamemayu Hayuning Bawono, yang diwujudkan melalui:

Penataan Lingkungan Fisik: Kebersihan trotoar, pengendalian sampah, serta penataan kawasan bantaran sungai.

Kesehatan Masyarakat: Menargetkan penurunan angka stunting dari 8,48 persen menuju angka 5 persen.

Ketertiban Sosial: Penguatan tata kelola sosial untuk mencegah vandalisme, tindakan anarkis, serta penataan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).

Pergeseran Paradigma: Dari Administrasi ke Dampak Nyata

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, memberikan catatan kritis terkait kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Ia mendorong perubahan paradigma dari sekadar capaian administratif menuju hasil yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Kinerja OPD tidak boleh berhenti pada output administrasi saja. Dampak kualitasnya bagi kesejahteraan warga harus optimal. Evaluasi bersama sangat diperlukan agar program kerja benar-benar menurunkan ketimpangan ekonomi," tegas Wawan.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengemas tradisi budaya, seperti Nyadran dan Saparan, ke dalam satu kalender pariwisata terpadu untuk mendongkrak ekonomi lokal dan UMKM.

Momentum 2026: Menuju Kota Terinovatif

Di sisi perencanaan, Kepala Bappeda Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, menargetkan tahun 2026 sebagai momentum Yogyakarta naik kelas dari "Kota Sangat Inovatif" menjadi "Kota Terinovatif" secara nasional.

Berdasarkan pemetaan Bappeda, potensi inovasi Yogyakarta saat ini didominasi oleh:

Aksi Perubahan (PKA/PKP): 44%

Skema Quick Win: 37%

Inovasi Murni: 19%

"Kami mengubah pendekatan penganggaran dari money follow function menjadi money follow program dan program follow result. Fokus kita adalah aksi nyata melalui prinsip Think big, start small, act now," pungkas Agus.

Bagikan
Sumber: JogjaKota

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks